Parasit cacaing dan extoparasit


Tujuan Pembelajaran : 1. Mengetahui Klasifikasi Cacing Parasit, daur hidupnya dan

ciri-ciri telurnya.

2. Mengetahui Klasifikasi Extoparasit.

3. Mengetahui Anithelmentic.

4. Mengetahui Antiektoparasit.

  1. I. Klasifikasi Cacing Parasit, daur hidupnya dan ciri-ciri telurnya.
    1. Filum Platyhelmintes
      1. Kelas Trematoda

Cacing ini dikenal dengan cacing daun dan mempunyai ciri-ciri :

-          Tidak memiliki rongga badan dan semua organ berada didalam jaringan parenkim.

-          Tubuh biasanya pipih dorso-ventral, biasanya tidak bersegmen,  kebanyakan bentuk seperti daun , ada juga bentuk panjang langsing (Schistosoma sp.) dan berbentuk conus (Paramphistoma sp.).

-          Mempunyai lekukan yang ditengahnya ada lubang yang disebut alat penghisap( batil isap/sucker) berjumlah dua buah, yang satu mengelilingi mulut dikenal dengan istilah ”Oral Sucker ” dan yang lain berada 1/3 anterior tubuh dibagian ventral atau pada ujung posterior disebut ” ventral Sucker” (Asetabulum).

-          Kutikula atau tegumen cacing ada yang licin dan ada yang berduri, berfungsi sebagai pembungkus badan juga secara faal bertanggung jawab dalam melaksanakan makanan.

Sistem digesti dari cacing ini adalah dinding luar atau tegumen cacing daun disusun oleh kutikula halus atau berduri. Untuk sistem pencernaan masih sangat sederhana, mulai dari mulut pada bagian anterior yang dikelilingi oral sucker makanan masuk, melanjut keposterior menuju parings yang berotot kemudian esofagus dan akhirnya menuju usus yang terbagi menjadi 2 sekum bercabang-cabang dan akhirnya buntu. Kebanyakan trematoda tidak mempunyai anus, sehingga sisa bahan makanan harus diregurgitasi. Sistem syaraf sangat sederhana, ditemukan cincin serabut syaraf dan ganglia mengelilingi esofagus. Sistem sirkulasi tidak ada, dan Sistem ekskresi tersusun oleh sebuah kantong kemih posterior. Sedangkan untuk sistem reproduksi sangat komplek sebagian besar trematoda adalah Hermaphrodit (satu individu memiliki organ jantan dan betina) kecuali Schistosomatidae, tetapi pada umumnya terjadi pembuahan silang dan pembuahan sendiri kurang umum.

-          Sistem reproduksi jantan terdiri dari 2 testis berbentuk lobus atau bercabang-cabang, selanjutnya dari masing-masing testis dilanjutkan dengan sebuah vas eferens, vas eferens kemudian bergabung membentuk vas deferens. Pembuluh ini kadang –kadang melebar membentuk vesika seminalis yang dikelilingi oleh glandula prostata dan terakhir cirrus.

-          Sistem reproduksi betina secara berturutan dimulai dari ovarium yang tunggal berlobi-lobi atau bercabang-cabang, oviduks, reseptabulum seminalis, saluran vitelina yang menampung kelenjar viteliria, terusan laurel, kemudian menuju ootipe, uterus yang berkelok-kelok, metratem dan akhirnya keluar dari lubang kelami (Porus genitalis).

Untuk Siklus hidup dari kelas ini secara umum adalh Telur cacing akan keluar bersama tinja hewan saat defikasi. Pada kondisi menunjang (kelembaban suhu yang sesuai) , telur akan berkembang dan menetas mengeluarkan larva mirasidium. Mirasidium berbentuk segitiga , dengan bagian depan melebar dan biasanya ditutupi oleh silia , juga biasanya mempunyai duri untuk membuat lubang masuk kedalam tubuh hospes antara ( biasanya adalah siput). Mirasidium biasanya dilengkapi dengan sistem ekskresi dan sistem syaraf dan mempunyai usus berbentuk kantung, serta bintik mata. Pada waktu mirasidium menembus kulit hospes antara silianya lepas dan larva menjadi sporokista, yaitu masa sel yang tanpa diferensiasi.  Didalam sporokista terbentuk redia dan didalam tubuh redia terbentuk cercaria . Cercaria adalah bentuk infektifdari larva dan dapat langsung menginfeksi hospes definitif melalui makanan , minuman atau aktif menembus kulit, namun cercaria dapat mengkista diluar tubuh terutama pada tanaman air/rerumputan dan bentuk kista ini disebut metacercaria yang bersifat infeksius.

Contoh dari spesiesnya diantara lain

  1. Fasciola sp : Spesies ini mempunyai ciri-ciri berwarna coklat abu-abu dengan bentuk seperti daun, pipih, melebar dan lebih melebar keanterior dan berakhir dengan tonjolan berbentuk conus. Mempunyai batil isap mulut (oral sucker ) dan batil isap perut (ventral sucker) yang besarnya hampir sama. Cacing hati adalah hermaprodit, dimana porus genitalisnya (lubang kelamin) terletak tepat dibelakang batil isap perut.

Telur cacing bentuknya oval, berdinding sangat halus dan tipis, berwarna kuning dan bersifat sangat permiabel. Telur yang baru keluar bersama tinja didalamnya ada granula halus berukuran 130 – 150 u  X 63 – 90 mikron. Pada salah satu ujung telur terdapat operculum (merupakan daun pintu tempat keluarnya larva mirasidium dari dalam telur ).

Siklus hidup cacing ini adalah didalam tubuh ternak yang terinfeksi cacing hati dewasa berpredeleksi didalam pembuluh empedu hati. Selain hidup dari cairan empedu , cacing juga akan merusak sel-sel epitel dinding empedu untuk menghisap darah.

  1. Genus Paramphistomum, : merupakan family dari Paramphistomatidae. Trematoda jenis ini biasanya bertubuh tebal. Ventral sucker terletak pada ujung posterior tubuh. Tidak memiliki pharinx, tetapi memiliki esofagus, sedangkan intestinal sederhana. Cutikula tanpa spina, porus genitalis terletak ventral. Testis berlobi terletak anterior dan ovarium yang kecil. Glandula vitellaria disebelah lateral tubuh.

Predeleksinya terletak di rumen dan retikulum sapi, domba, kambing, kerbau, kijang dan ruminansia lain, sedangkan cacing muda berpredeleksi didalam usus halus dan baru akan bermigrasi kedalam rumen dan retikulum setelah menjadi dewasa.

  1. Schistosoma sp : cacing Schistosoma merupakan trematoda berbentuk panjang, unisexual. Cacing jantan pipih seperti daun, sedangkan cacing betina bentuknya gilig dan ukurannya lebih panjang. Cacing betina pada umumnya melekat pada cacing jantan, terutama pada saat kopulasi disebabkan karena pada bagian ventral cacing jantan terdapat suatu celah yang berbentuk silindris dan mengikuti sisi lateral tubuh yang dinamakan canalis gynaecophorus .

Predeleksinya di dalam vena porta dan vena mesenterika  dari  kambing, sapi, domba, anjing dan manusia.

Siklus Hidup dari Trematoda adalah sebagai berikut :

(Anonim, 2009 (d))

  1. Kelas Cestoda

Pada kelas ini mempunyai cirri-ciri yaitu bentuknya pipih panjang seperti pita.Tubuh Cestoda dilapisi kutikula dan terdiri dari bagian anterior yang disebut skoleks yang terdapat bathil isap, leher (strobilus), dan rangkaian proglotid.Pada skoleks terdapat alat pengisap.Skoleks pada jenis Cestoda tertentu selain memiliki alat pengisap, juga memiliki kait (rostelum) yang berfungsi untuk melekat pada organ tubuh inangnya dan terbuat dari kitin. Dibelakang skoleks pada bagian leher terbentuk proglotid. Setiap proglotid mengandung organ kelamin jantan (testis) dan organ kelamin betina (ovarium).Tiap proglotid dapat terjadi fertilisasi sendiri.Proglotid yang dibuahi terdapat di bagian posterior tubuh cacing.Proglotid dapat melepaskan diri (strobilasi) dan keluar dari tubuh inang utama bersama dengan tinja. Cestoda bersifat parasit karena menyerap sari makan dari usus halus inangnya.Sari makanan diserap langsung oleh seluruh permukaan tubuhnya karena cacing ini tidak memiliki mulut dan pencernaan (usus) (Anonim, 2009)

Contoh dari spesies cestoda adalah  1. Taenia solium : terdapat pada babi menyebabkan taeniasis solium. Pada skoleknya terdapat kait-kait. Proglotid yang matang menjadi alat reproduksinya. Siklus hidupnya adalah dari Proglottid Masak (terdapat dalam feses) bila tertelan oleh babi Þ Embrio Heksakan, menembus usus dan melepaskan kait-kaitnya Þ Larva Sistiserkus (dalam otot lurik babi) tertelan manusia Þ Cacing dewasa. 2. Taenia Saginata : terdapat pada sapi, dan menyebabkan Taeniasis saginata. Pada skoleknya tidak terdapat kait-kait. Memiliki hospes perantara Þ Sapi. Daur hidupnya sama dengan Taenia solium. (Anonim, 2000).

  1. Ordo Nemathelminthes (Cacing Gilig)
    1. Nematoda

Nematoda merupakan organisme yang mempunyai struktur sederhana. Nematoda dewasa tersusun oleh ribuan sel-sel somatik, ratusan sel diantaranya membentuk sistem reproduksi.  Tubuh nematoda berupa tabung yang disebut sebagai pseudocoelomate. Mempunyai cirri-ciri tidak bersegmen, silindris memenjang, simetris bilateral, mempunyai rongga tubuh semu, tubuhnya transparan. Dinding tubuh nematode terdiri dari 1. kutikula luar (Bagian dinding tubuh luar yang berfungsi sebagai pelindung jaringan dibawahnya). 2. Lapisan antara. 3. Hipodermis (Membentuk kutikula baru)(Anonim, 2009 (b)).

Sistem integumennya adalah permukaan luar tubuh cacing diselubungi oleh kutikula yang merupakan ikatan paling sedikit tersusun oleh 5 macam protein dan dapat dibedakan menjadi 3 lapis mulai dari permukaan secara berturutan adalah sebagai berikut : korteks, matriks dan basal. Dibawah integumen adalah hipodermis dan lapisan otot.

Sistem digesti dimulai dari mulut pada ujung anterior tubuh yang dikelilingi oleh bibir, stoma atau rongga bukal/mulut (tidak selalu ada), esofagus, katup esofagointestina, intestinum atau mesonteron, sekum (ada/tidak), rektum (cacing betina) dan kloaka (cacing jantan) dan anus.

System syaraf sejumlah ganglia dan syaraf membentuk cincin yang mengelilingi ismus esofagus, dari cincin syaraf tersebut keluar 6 batang syaraf menuju ke anterior dan 4 ke posterior.

Sistem Reproduksi jenis kelamin kebanyakan nematoda adalah terpisah (uniseksual). Pada cacing jantan terdiri dari satu atau kadang-kadang dua testis tubuler. Secara berturutan setelah testis, vas eferens, vesikulum seminalis (sebagai tempat menyimpan sperma), vas deferens dan terakhir kloaka. Disebelah dorsal kloaka ditemukan kantung spikulum yang biasanya ditemukan 1atau 2 atau tidak spikula (alat untuk kopulasi). Disekeliling anus ditemukan beberapa papila yang kadang-kadang bertangkai serta susunan berbeda pada setiap jenis cacing.  Ekor cacing jantan dapat dibedakan menjadi dua tipe , yaitu yang berupa sayap yang terbentuk dari kutikula sepanjang ekor cacing dan tidak terlalu melebar disebut ALA CAUDAL  sedangkan yang melebar membentuk bentukan yang disebut BURSA (berfungsi untuk memegang cacing betina saat kopulasi). Sistem reproduksi cacing betina terdiri dari 2 atau 1 ovarium tubuler, berikutnya masing-masing oviduks, uterus (bagian uterus ada yang meluas membentuk “” Reseptakulum Seminalis ” yaitu kantung sperma) , vagina dan terakhir vulva.

Siklus hidup cacing nematoda secara umum dapat dibagi menjadi dua:

A. secara langsung : 1. Melalui larva infektif  :                 Ancylostoma sp.

2. melalui telur infektif  :              Ascaris sp., Trichuris

Telur menetas (diluar tubuh hospes) menghasilkan L1, kemudian melewati dua kali ekdisis (ganti selubung) menjadi L2 dan L3. Stadium L3 disebut stadium infektif, karena kalau termakan oleh hospes akan berkembang menjadi cacing dewasa. Sedangkan L1 dan L2 walaupun sama-sama termakan tidak akan menjadi dewasa. Ada pula L3 yang selain infektif melalui mulut (termakan) bisa pula  menembus kulit. Telur berkembang diluar tubuh hospes, tetapi tidak menetas. Larva infektif (L2) tetap didalam telur . infeksi melalui mulut (termakan).  contoh : Ascaris sp.

B.  secara tidak langsung : melalui hospes Intermidier (HI)          Dirofilaria sp., Thelazia sp.

Contoh dari spesies dari Kelas nematoda adalah

  1. Ordo Ascaridida

Ordo ini mempunyai genus Ascaris, Ascaris adalah jenis cacing gilig yang besar. Bibirnya mempunyai peninggian bergigi, tetapi tidak ada interlabia atau sayap servikal. Ekor cacing jantan berbentuk kerucut, tanpa sayap kaudal tetapi terdapat sejumlah papila. cacing Ascaris suum berbentuk bulat panjang, memiliki kutikula yang tebal serta memiliki tiga buah bibir pada bagian mulutnya. Dua buah bibirnya terletak pada bagian dorsal. Masing-masing bibir dilengkapi dengan papillae dibagian lateral dan subventral dan dilengkapi pula dengan sederetan gigi pada permukaan sebelah dalam.

Dalam perkembangannya, cacing A. suum melalui dua fase perkembangan yakni fase eksternal (diluar tubuh ternak) dan fase internal ( di dalam tubuh ternak). Fase eksternal : dimulai sejak telur cacing Ascaris dikeluarkan bersama dengan faeses dari dalam tubuh ternak penderita saat defikasi. Di alam luar, pada kondisi lingkungan yang menunjang, telur akan berkembang sehingga didalam telur terbentuk larva stadium I. Bila kondisi tetap menunjang, larva stadium I akan menyilih menjadi larva stadium II yang bersifat infeksius (telur infektif) dan siap menulari ternak babi apabila telur tertelan.

Fase internal dimulai saat telur yang infektif tertelan oleh hospes definitif. Didalam usus halus, telur infektif tersebut dicerna oleh enzim pencernaan dan terbebaslah larva stadium II. Larva II akan menembus dinding usus halus menuju hati atau larva akan mengikuti peredaran darah vena porta menuju ke hati. Selanjutnya larva II tersebut menembus kapsul hati dan masuk melalui sel-sel parenkem hati untuk selanjutnya ikut peredaran darah dari hati menuju ke jantung, paru-paru, dan bahkan dapat menyebar seluruh organ tubuh. Jika babi bunting dapat terjadi infeksi prenatal. Juga larva dapat mencapai kelenjar susu, didalam kelenjar susu, larva cacing akan bersifat dorman (tidak berkembang lebih lanjut atau mengalami fase istirahat ) dan baru akan berkembang didalam tubuh keturunannya (anak) bila mana sudah lahir dan penularannya melalui air susu. Didalam paru-paru larva stadium II berkembang menjadi larva III, kemudian keluar dari kapiler alveoli paru-paru menuju bronchioli, bronchi dan selanjutnyake trachea, pharing (iritasi terjadi proses batuk) akhirnya larva III tertelan dan sampailah kembali ke dalam usus halus. Di dalam usus halus larva III menyilih menjadi larva IV dan menyilih untuk menjadi larva V (dewasa).

Telur berukuran 50-80 X 40-60 mikron, berdinding tebal, berwarna kuning kecoklatan serta pada bagian luarnya dilapisi oleh lapisan albumin yang tidak rata sehingga membentuk tonjolan yang bergerigi (ciri khas dari genus Ascaris ). Hospes definitive dan predeleksinya adalah babi dan usus halus.

  1. 2. Genus Trichuris : Hospes di ruminant. Predeleksi di coecum
  2. 3. Ancylostoma duodenale (cacing tambang), Cacing tambang dapat hidup sebagai parasit dengan menyerap darah dan cairan tubuh pada usus halus manusi.
  3. Genus Trichenella,

Hospes              :   Babi , tikus, manusia dan mamalia lain (peka), sapi, domba dan kambing (kurang peka).  Larva cacing akan mengkista pada urat daging bergaris melintang.

Habitat     :    Cacing dewasa pada usus halus sedangkan larvanya pada urat daging

  1. 5. Genus Toxocara :
  2. Toxocara canis, berpredeleksi dalam usus halus anjing dan rubah, lebih besar dari Toxascaris leonina. Cacing jantan panjangnya mencapai 10 cm dan yang betina 18 cm. Telurnya berbentuk agak bulat berukuran 85-90X75 mikron dengan dinding tebal dan berbintik-bintik halus.
  3. Toxocara cati, berpredeleksi didalam usus halus kucing. Morfologinya hampir sama dengan T. canis,
  4. Toxocara vitolurum, berpredeleksi didalam usus halus sapi, kerbau, domba dan kambing. Bibirnya lebar pada pangkalnya dan semakin keujung menyempit. Cacing jantan panjangnya mencapai 25 cm dengan diameter 5 mm. Ujung posteriornya meruncing dan sering disebut berujung paku.
    1. Oxyuris equi., dijumpai didalam usus besar dari bangsa kuda di seluruh dunia. Cacing jantan Panjang 9 – 12 mm dan betina sampai 150 mm.
    2. Ascaridia galli, A. columbae, A. dissimilis yang predeleksinya di dalam usus halus ternak unggas seperti ayam, mentog, kalkun, itik dan berbagai burung liar di seluruh dunia.
    3. Cacing  Haemonchus contortus merupakan cacing lambung yang besar, sehingga disebut juga cacing ” Barberpole” , cacing lambung berpilin atau cacing kawat pada ruminansia. Cacing H. contortus berpredeleksi didalam abomasum kambing, sapi, kambing dan ruminansia lain.
    4. Oesophagustonum :

a. O. columbionum : dijumpai pada colon domba, kambing, unta.

b. O. radiatum : dijumpai didalam colon sapi, kerbau dan zebu.

c. O. dentatum : dijumpai di dalam usus besar babi.

(Anonim, 2009 (c)).

  1. II. Klasifikasi Extoparasit

Ordo

Famili Genus Spesies Vektor/parasit
1. Diptera Simuliidae Simulium S.damnosum Onchocerca
Psychodidae

Sub fam: Phlebotominae

Phlebotomus

Phlebotomus sp

P. papatasi

P. sergenti

Lutzomia verucorum

Leishmania

Bartonella

Penyakit virus

Ceratopogonidae Culicoides C. variipens Virus blu tongue

Culicidae

Culex C. tarsalis

C. pipiens

C.tritaenorinchus

Penyk. Tidur

filariasis

Jap.encephal.

Aedes A. aegypti Yelow fever

Dengue

Sub fam:

Anophelinae

Anopheles A.quadrimaculatus

dsb

Malaria
Sub ordo:

Brachyera

Tabanidae Chrysops Chrysops sp Loa loa
Muscidae Musca M. domestica bacteri

spora jamur

telur cacing

cysta protozoa

Glossina G. palpalis

G. fuscipes

G. tachinoides

Trypanosomiasis
2. Acari

sub ordo:

metastigmata

Ixodidae

(caplak keras)

Ixodes I.Pacificus

I.Holocyclus

Paralysis
Haemophysalis H.cordeilus
Dermacentor D. andersoni

D.occidentalis

paralysis

virus

Amblyoma A.americanum

A.cayenense

Tularemia
Rhipicephalus R.apendiculatus
Boopphilus B.microplus Babesia
Argasidae

(caplak lunak)

Ornithodoros O.hermisi

O.savignyi

Relapsing vefer

Gatal

Otobius O.megnini Gatal
Argas A.persicus
Sub ordo:

Prostigmata

Demodicidae Demodex D.foliculorum

D.brevis

Kutu rambut
Astigmata Psoroptidae Chorioptes C.bovis
Sarcoptidae Sarcoptes S.scabei Zoonosis,gatal
3. Mallophaga

(kutu;lice)

Sub fam:

Amblycera

- Nemacanthus

Menopon

N.galinus

M.galinae

Anoplura - Pediculus

Phthirus

Ped.humanus

Pht.pubis

tuma

tuma rambut

4. Hemiptera

(bug)

Reduviidae Reduvius R.personatus Tryp.cruzi
Triatominae Triatoma T.infestans Tryp.cruzi
5. Shiponoptera

(fleas; pinjal)

Pulicidae Pulex P. irritans Plague
P. simulans Yusticia pestis
Tungidae Tunga T.penetrans Gatal sangat

  1. A. Filum Arthopoda

Arthopoda merupkan binatang berkaki bersegmen. Filum arthopoda terdiri dari dua kelas yaitu kelas insekta dan kelas aschrida.

  1. Kelas Insekta

Kelas insekta merupakan binatang berkaki enam, tubuhnya bersegmen-segmen, terdiri dari kepala, dada, dan perut. Kelas insekta terdiri dari 4 ordo yaitu :

  1. Ordo Diptera : Ordo ini terdiri adalah jenis-jenis nyamuk dan lalat. Contohnya adalah

-          Anopheles sp : Larva Anopheles sp terdiri dari bagian kaput, toraks dan abdomen. Pada bagian kaput terdiri dari bulu-bulu klipeus, antenna dengan bulu-bulu, mata sepasang, mulut dengan bagiannya yaitu labrum, sikat mulut, sepasang mandibula, sepasang maksila, sepasang palpus maksilaris, dan labium. Sedangkan untuk bagian toraks terdiri dari bulu-bulu toraks dan bulu-bulu palmate. Pada bagian abdomen terdiri dari palmate 7 pasang palmate pada segmen ke 1-7. Fosa respirasi dan pekten pada segmen ke 8, juga terdapat stigma pada fosa respirasi, sedang tonjolan pada stigma disebut tajugada.

Sedangkan untuk Pupa Anopheles sp terdiri dari bagian sefalotoraks yang terdapat nata dan corog nafas. Dan bagian Abdomen yang terdapat dayung.

-          Culex sp : Sama dengan larva Anopheles sp, larva Culex sp juga terdiri dari 3 bagian yaitu kaput, toraks dan abdomen. Pada bagian kaput dan toraks komponen-komponennya sama dengan pada yang terdapat pada Anopheles sp. Hanya pada kaput Culex sp tidak terdapat bulu-bulu palmate. Sedang untuk bagian abdomen terdiri dari bulu-bulu abdomen, pada segmen ke 8 terdiri dari sifon, stigma yang terletak diujung sifon.

Sedangkan untuk Pupa Culex sp sama dengan pupu Anopheles sp. Hanya pada corong nafas Culex sp terlihat panjang dan berbentuk tubuler.

-          Lalat : contoh- contoh dari lalat adalh sebagai berikut : Tabanus sp (lalat kuda), Stomoxys calcitrans (lalat kandang), Musca domestica (lalat rumah). Ciri-ciri dari lalat sendiri adalah 1. Mempunyai sepasang sayap pada mesotoraks, pada lalat tertentu juga da yang mempunyai lalat berambut. 2. Mempunyai mata yang relative besar. 3. Bagaian dorsal toraks biasanya mempunyai gambaran-gambaran tertentu dan terkadang mempunyai bulu. 3. Pada bagian abdomen relative pendek dan mepunyai gambaran tertentu.

  1. 2. Ordo Mallophaga (kutu penggigit)

Ordo ini mempunyai tubuh yang berbentuk pipih dorsoventral, tidak mempunayi sayap, kepala relative besar, tumpul, berparasit pada mamalia dan unggas. Ordo ini mempunyai dua subordo yaitu :

-          Subordo Amblycera : Subordo ini mempunyai cirri yaitu mempunyai palpus maksilaris dan antenna terletak pada celah di sisi kepala. Contoh : Menopon gallinae, Heterodoxus spathiger.

-          Subordo Iscnocera : Subordo ini tidak mempunyai palpu maksilaris, antenna terleta pad sisi kepala. Contoh : Damalinia Ovis, Trichodectes Canis, Columbicola columbae, lipeuros caponis.

  1. 3. Ordo Siphunculata (Kutu Penghisap Darah)

Pada ordo ini mampunyai cirri kepala yang relative kecil, Pada bagaian anteriornya berbetuk mocong yang disebut Prestonum. Antenna terlihat disisi kepala dan biasanya terdiri dari 5 segmen.

  1. Ordo Siphonaptera (pinjal)

Pada ordo ini terdiri dari jenis-jenis pinjal dan mempunyai tubuh pipih bilateral. Tubuh tidak memiliki sayap, namun mempunyai kaki yang kuat untuk melompat. Terdapat Ktinidia yang merupkan duri-duri yang relative besar yang terdapat pada pipi maupun pronotom. Pada tergum segmen ke abdomen kesembilan terdapat lempeng dorsal yang disebut dengan sensilium dan pigidium. Sedangkan yang jantan, pada segmen abdomen ke sepuluh mengalami modifikasi membentuk oragan kelamin jantan yang disebut dengna klasper, sedangkan penis berbentuk spiral. Pada organ kelamin betina memiliki bentukan spesifik yang disebut reseptakulum seminis.

  1. Kelas Arachnida

Pada kelas ini mempunyai ciri-ciri yaitu memiliki empat pasang kaki. Pada tubuhnya dibagi menjadi dua bagian utama yaitu prosoma (bagian sefalotoraks) dan opistosoma (bagian abdomen). Pada prosoma masih dibagi menjadi dua bagian lagi yaitu gnatosoma (yaitu bagian yang mempunyai alat mulut) dan bagian podosoma (yaitu bagian yang mempunyai 4 pasang kaki). Pada kelas ini hanya mempunyai satu ordo yang penting yaitu ordo Acarina.

Pada Ordo Acarina ini terdiri dari jenis-jenis capalak dan tungau. Pada caplak terjadi fusi antara podosoma dan opistosoma yang membentukm sbuah kantong yang disebut dengna idiosoma. Caplak dan tungau memiliki ukuran yang kecil dan tidak memiliki sayap maupun antenna. Ordo Acarina mempuanyai beberpa subordo diantaranya adalah

  1. Subordo Ixodidea (subordo ini terdiri dari jenis-jenis caplak). Subordo ini terdiri dari dua family yaitu
    1. Familia Ixodidae (caplak keras) : Pada caplak keras gnatosoma terdapat pada tepi anterior dari idiosoma, terdapat perisai dorsal yang disebut dengan skutum. Pada yang jantan skutum menutupi seluruh bagian dorsal, sedang yang betina, larva maupun nimfa hanya menutupi bagian kecil belakang gnatosoma. Contoh : Argas Percicus, Otobius megnini, Ornithodorus moubata.
    2. Familia Argasidae (caplak lunak) : Pada caplak ini gnatosoma terletak pada ventro anterior idiosoma. Contoh : Ixodes recinus, Haemaphycalis leachi, Boophilus decoloratus, Richephalus appendiculatus (Anonim, 2009 (e)).
    3. III. Anthelmentic

Anthelmintik merupakan obat yang digunakan untuk memberantas penyakit cacaing. Contoh obat cacing sendiri adalah piperazin, pirantel, levamisol, mebendazol, befenium, tiabendazol, bitoskanat, pirvinium, diklorofen, Dietilkarbomezin, Heksiresorsinol, Niklosamid, Emetin, Poromistin, Klorokuin, Stibofen, Niridazol, Prazikuantel ( Djamhuri, 1994 )

  1. Mebendazol (Vermox, Vermoran) : Obat ini biasa digunakan untuk penyakit Ascariasis (disebabkan cacing Ascaris lumbricoides/cacaing gelang), Oxyuriasis (disebabkan Oxyuris vermicuris / cacing kremi), Strongyloidiasis (disebabkan Strongloydes stercoralis/ cacing benang), Trichuriasis (disebabkan cacing Trichuris trichura cacing cambuk). Mekanisme dari obat ini adalah melalui perintangan pemasukan karbohidrat dan mempercepat penggunaan gula (glikogen) pada cacing. Resorpsinya dari usus utuh kecil sekali, kurang dari 1 %, maka efek-efek sampingnya yang berupa gangguan-gangguan lambung-usus ringan , jarang terjadi.
  2. Thiabendazol (Mintezol, MSD): merupakan derivate mebendazol dengan khasiat dan penggunaan yang sama. Mudah direabsorbsi oleh usus. Dapat digunkan infeksi-infeksi cacing di jaringan. Mekanisme kerjanya mungkin berdasarkan perintangan enzim pada cacing.
  3. Piperazin (Antepar (BW), Bekacitrin (KF)) : Obat ini digunakan terhadap penyakit cacing yang disebabkan cacing Oxyuris dan Ascaris berdasarkan perintangan penerusan impuls neuromuscular. Hingga cacing dilumpuhkan. Reabsorbsinya oleh usus cukup baik.
  4. Pirvinium (viprynium, vanquin (PD)) : Obat ini cukup berkhasiat terhadap cacing Oxyuris. Mekanisme kerjanya perkiraan melalui perintangan pernapasan dan proses-proses penting lainnya pada cacaing.
  5. Pirantel (Combantrin (Pfizer), Pyrantin (Mecosin)) : Derivat pirimidin ini berkhasiat terhadap cacaing Oxyuris, Ascaris dan cacing-cacing tambang lainnya. Mekanisme kerjanya berdasarakan perintangan penerusan impuls neuromuscular (seperti piperazin) dengan efek perlumpuhan (kejang0kejang). Cacing yang terjadi kelumpuhan akan dikeluarkan secara peristaltik tanpa diperlukan laksans. Resorpsinya dalam usus ringan.
  6. Befenium (Alcopar (BW)) : Obat ini merupkan senyawa ammonium kwartener, obat ini berkhasiat terhadap cacing-cacing tamabang dan ascaris. Terhadapay Ancylostoma lebih efektif daripada Necator. Resorpsinya dalam usus hanya sedikit.
  7. Levamisol (Ascaridil (jansen), Askamex (Konimex)) : Merupakan derivate imidazol, berkhasiat terhadap ascaris dan cacing-cacing tambang. Obat ini uga stimulasi terahadap system imunologi tubuh.
  8. Tetrakloretilen (: Zat pelarut ini efektif terhadap cacing-cacing tambang, terutama necator.
  9. Niklosamida (Yomesen (Bayer)) : Senyawa nitro ini berkhasiat terhadap cacing-cacing pita. Terhadap telurnya justru tidak aktif. Mekanisme kerjanya melalui peninggian kepekaan cacing bagi enzim-enzim protease dalam usus tuan rumah, hingga cacing lebih mudah dicernakan. Maka saat ditinja cacing sudah tidak ada scolex. Resorbsinya dari usus sangat ringan.
  10. Dikorofen (Antiphen (MB)) : Mekanisme kerjanya adalah memeatikan scolex cacing dan kemudian mencernakan di getah usus. Bersifat laksans, sehingga telur-telur yang dilepasakan oleh segmen cacing segera keluar.
Cacing Obat Terpilih Obat-obat lainnya
Ascaris (gelang) Mebendazol Piperazin, pirentel, bifenium, dan levamisol
Oxyuris (kremi) Mebendazol Piperazin, pirvinium, pirantel.
Taenia (pita) Nikolsamida Diklorofen, mebendazol
Necator (tambang) Befenium Tetraklotilen, mebendazol
Strongyloides (benang) Mebendazol Thiabendazol,
Trichuris (Cambuk) Mebendazol Thiabendazol

(Sirait, 1979)

  1. IV. Antiektoparasit

Merupakan obat yang membunuh serangga parasit (kutu, pinjal, nyamuk, tungau)

Contoh obatnya adalah :

  1. Selvin                                7. Cyromeasin
  2. Ivermectin                         8. Cipermetrin
  3. Delmethrin                        9. Moksidektin
  4. Permetrin                           10. Fipronil
  5. Selamektin                                    (Anonim (2009 (f)).
  6. Doramektin

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2000. Plathyhelmintes. http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Biologi%201.htm.

(diakses pada tanggal 30 September 2009)

Anonim. 2009. Mengenal Philum Plathyhelmintes.

http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/11/mengenal-phylum-platyhelminthes/

(diakses pada tanggal 30 September 2009)

Anonim. 2009 (b). Struktur dan Klasifikasi Nematoda.

http://mail.uns.ac.id/~subagiya/struktur.HTM

(diakses pada tanggal 30 September 2009)

Anonim. 2009 (c). Nemathelmintes.

http://adifabregas.wordpress.com/2009/09/05/nemathelminthes/

(diakses pada tanggal 30 September 2009)

Anonim, 2009 (d). Zoologi Invertebrata/Filum Plathyhelmintes.

http://harveymoningka.wordpress.com/zoologi-invertebrata-fillum-platyhrlminthes/

(diakses pada tanggal 30 September 2009)

Anonim. 2009 (e). Petunjuk Praktikum Parasitologi BLOK 7. Yogyakarta : FKH UGM

Anonim. 2009 (f). http://www.farmasiku.com/index.php.

(diakses pada tanggal 27 September 2009)

Dajmhuri. 1994. Sinopsis Farmakologi. Jakarta : Penerbit Hipokrates

Sirait, Median. 1979. Obat Penting dan Berguna. Jakarta : Sciedam.

About these ads

Perihal imam abror
Belajar menjadi yang terbaik di mata Alloh. Hidup ini singkat dan hanya satu kali, manfaatkan tidak hanya untuk kepentingan sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak, Alloh beserta orang-orang yang peduli….

One Response to Parasit cacaing dan extoparasit

  1. katarina anis handayani mengatakan:

    ouh i loved so much with this page

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: