Proses spermatogenesis, hormon reproduksi jantan, descendens testiculorum, dan chritochisdismus


Tujuan Pembelajaran   :           1. Mengetahui Proses Spermatogenesis

2. Mengetahui Hormone Reproduksi pada Jantan, Fungsi dan Letak.

3. Mengetahui Mekanisme Descendens Testiculorum.

4. Mengetahui Penyebab Cristochisdismus

  • Proses Spermatogenesis

Proses spermatogenesis terjadi didalam tubula seminiferus testis. Proses ini dimulai dari proses diferensiasi sel-sel germinal primordial menjadi spermatogonium. Spermatogonium ini mempunyai jumlah kromososm diploid (2n). Spermatogonia ini menempati membran basah atau bagian terluar dari tubulus seminiferus. Spermatogonia ini akn mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi spermatosit primer. Spermatogonia akan bermitosis berkali-kali mebentuk spermatosit primer. Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder (Anonim, 2009 (a)).

(Barlian dkk, 2009)

Proses pembentukan spermatosit sekunder, dimulai saat spermatosit primer menjauhi dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak, dan terjadilah meiosis pertama membentuk dua spermatosit sekunder yang masing-masing memiliki kromososm haploid (1n). Proses meiosis pertama ini langsung diikuti dengan pembelahan meiosis kedua yang membentuk empat spermatid masing-masing dengan kromosom haploid. Akhirnya spermatid akan bertranformasi membentuk spermatozoa. Proses spermatogenesis ini terjadim pada suhu normal tetapi lebih rendah dari pada suhu tubuh, dan proses ini juga dipengaruhi oleh sel sertoli (Isnaeni, 2006).

Jadi jika dilihat dari tahapannya, proses spermatogenesis dibagi menjadi tiga tahapan :

  1. Tahapan Spermatocytogenesis

Yaitu tahapan dimana spermatogonia bermitosis menjadi spermatid primer, proses ini dipengarui oleh sel sertoli, dimana sel sertoli yang meberi nutrisi-nutrisi kepada spermatogonia, sehingga dapat berkembang menjadi spermatosit.

  1. Tahapan Meiosis

Merupakan tahapan spermatosit primer bermiosis I membentuk spermatosis sekunder dan langsung terjadi meiosis II yaitu pembentukan spermatid, dari spermatosit sekunder. Proses ini terjadi saat spermatosit primer menjauhi lamina basalis, dan sitoplasma semakin banyak.

  1. Tahapan Spermiogenesis

Merupakan tahapan terakhir pembentukan spermatozoa, dimana terjadi transformasi dari spermatid menjadi spermatozoa. Tahapan ini terdiri dari empat fase : yaitu fase golgi, fase tutup. fase akrosom, dan fase pematangan (Anonim, 2009 (b)).

(Barlian, dkk, 2009)

Setelah terbentuk spermatozoa, Sperma ini terdiri dari tiga bagian yaitu kepala sperma, leher sperma, dan ekor sperma.

A. Kepala sperma,  pada kepala sperma terdapat akrosoma yang terbentuk dari badan golgi dan mengandung enzim hialuronidase yang berfungsi untuk melisiskan bentuk telur. Pada bagian ini juga terdapat inti sperma yang menyimpan sejumlah kode/informasi genetik yang akan diwariskan kepada keturunannya.

B. Leher Sperma, pada bagian ini banyak mengandung mitokondria, sehingga tempat ini merupakan tempat oksidasi sel untuk membentuk energi, sehingga sperma dapat bergerak aktif.

C. Ekor Sperma, bagian ini merupakan alat gerak sperma menuju ovum (Syamsuri, 2003).

  • Hormon Reproduksi pada hewan jantan, fungsi dan letak.
  1. Testosteron : Merupakan hormone yang terletak dan dihasilakn oleh testis tepatnya hormone ini dikeluarkan oleh sel leydig). Hormone ini penting untuk pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi serta cirri seks sekunder pada hewan jantan dan hormone ini terutam bertanggung jawab pada pembentukan spermatosit sekunder. Pelepasan hormone ini dikendalikan oleh hormone LH (Luteinizing Hormone) (Isnaeni, 2006).
  2. GnRH : Hormon ini dihasilkan oleh hipotalamus, yang berfungsi untuk merangsang hipofisis atau pituitary bagian anterior untuk mengeluarkan FSH dan LH.
  3. LH (Luteinizing Hormone) : Hormon ini disekresikan oleh kelenjar hipofisis bagian anterior. Hormon ini berfungsi untuk merangsang sel-sel leydig agar mensekresikan hormone testosterone (Syamsuri, 2003).
  4. FSH (Follicle Stimulating Hormone) : Hormon ini juga disekresikan oleh kelenjar hipofisis bagian anterior, dan berfungsi untuk mempengaruhi dan merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel sertoli untuk menghasikan ABP (Androgen Binding Protein/protein pengikat androgen) yang berfungsi untuk mengikat estrogen dan testosterone dan membawa kedua hormone tersebut ke dalam cairan tubulus seminiferus,  jadi ABP juga berfungsi memacu pembentukan sperma. FSH pada khusunya berfungsi pada pembentukan spermatid menjadi spermatozoa.
  5. Estrogen : Hormon ini dihasilkan oleh sel-sel sertoli, hormone ini berfungsi untuk pematangan sperma ( Anonim, 2009 (a)).
  • Mekanisme Descendens Testiculorum

Dilihat penurun testes secara embriologi, testis dan mesonefros dilekatkan pada dinding belakang perut melalui mesenterium urogenital, dengan terjadinya degenerasi mesonefros pita pelekat tersebut berguna sebagai mesenterium untuk gonad. Kearah kaudal, mesenterium ini menjadi ligamentum genitalis kaudal. Sruktur lain yang berjalan dari kutub kaudal testis adalah gubernakulum yaitu pemadatan mesenkim yang kaya matriks ekstraseluar. Selanjutnya testis akan turun mencapai cincin inguinal interna,  pada manusia sekitar bulan ketujuh, dan kemudian baru akan melewati kanalis inguinalis menuju ke scrotum.

Selama proses penurunannya, testis diselubungi oleh perpanjangan peritoneum (prosessus vaginalis) yang mengarah ke skrotum fetal. Testis turun ke bawah di belakang prosessus vaginalis yang normalnya terobliterasi pada saat kelahiran membentuk pelapis testis paling dalam (tunica vaginalis). Faktor yang mengendalikan testis antara lain pertumbuhan keluar bagian ekstraabdomen gubernakulum menimbulkan migrasi intrabdomen, pertambahan tekanan intrabdomen yang disebabkan pertumbuhan organ mengakibatkan turunnya testis melalui canalis inguinalis dan regresi bagian ekstraabdomen gubernakulum menyempurnakan pergerakan testis masuk ke dalam skrotum. Proses ini juga dipengaruhi oleh hormon androgen dan MIS ( mullerian inhibiting substances).

Lebih mudahnya penurunan testes terjadi melalu dua tahap atau dua fase, yaitu fase penurunan transabdominal dan fase migrasi inguino-scrotal. Pada fase pertama  testis tertahan di annulus inguinalis internus oleh ligamentum kaudal yang disebut dengan Gubernakulum. Penahanan ini mencegah testis untuk bergerak naik seperti halnya ovarium pada betina. Perkembangan gubernakulum tergantung pada Insuline-Like Hormone 3 (INSL-3) dan reseptornya yaitu Leucine-rich repeat-containing G protein coupled receptor 8 (LGR-8). Pada fase yang kedua, testis bermigrasi dari area inguinalis interna menuju skrotum. Gubernakulum akan membesar dan akan menyebabkan pelebaran pada canalis inguinalis. Kemudian pengerutan dari gubernakulum dan adanya tekanan intra abdominal yang tinggi yang dapat mendesak testis untuk bergerak melalui canalis inguinalis. Fase inguino-skrotal ini tergantung pada androgen. Dan faktor-faktor yang mempengaruhi turunnya testes adalah

Faktor yang mempengaruhi fase I (penurunan testis transabdominal)
INSL-3

LGR-8

Estrogen

Faktor yang mempengaruhi fase II (inguino-skrotal)
Androgen

Androgen Receptor Gen

Gonadotropin

Genoito Femoral Nerve

Calcitonin Gene Related Peptide (CGRP)

Faktor lainnya
HoxA10

AMH

AMH receptor Gene

(Fajrin, 2008)

  • Penyebab Cristochisdismus

Cryptorchisdismus merupakan keadaan dimana satu atau kedua testis tidak turun ke dalam kantong scrotum. Unilateral cryptorchismus adalah suatu keadaan dimana hanya satu testis saja yang turun dan masuk ke dalam scrotum, sedangkan bila kedua testis tidak berada di dalam scrotum, maka keadaan itu disebut sebagai bilateral cryptorchismus. Kadang-kadang testis dapat keluar dari abdomen, namun hanya sampai di daerah inguinal saja. Cryptorchidismus ini diduga bukan merupakan penyakit, namun merupakan kelainan yang berhubungan dengan faktor genetik (Koesharyono, 2008). Hal ini juga bisa terjadi akibat tidak sempurnanya atau tidak memadainya besarnya saluran sehingga testis tidak dapat melewatinya, sehingga testis tersebut tidak dapat turun ke scrotum pada waktunya. Kelainan anatomi tersebut juga masih berhubungan dengan faktor genetik (Anonim, 2008).

Jika dilihat dari segi medis, penyakit ini disebabkan karena beberapa faktor

  1. Adanya mutasi gen pada gen INSL-3 dan LGR-8, hal ini menurut penelitian terbukti,  bahwasanya INSL-3 juga berperan penting pada proses penurunan testis pada fase 2.
  2. Efek dari mpasial androgen, karena fase inguino scrotal tergantung pada androgen
  1. Terjadinya indrom duktus mullerian persisten disebabkan oleh abnormalitas pada hormone anti-mullerian dan reseptornya. Pada sindrom ini, lokasi testis dapat di intra abdominal, atau didalam hernia inguinal bersama dengan aksesori organ reproduksi perempuan dan testis kolateral. Hal ini berarti fase transabdominal telah terganggu, dan ditemukan juga bahwa gubernakulum terlah mengalami feminisasi pada sindrom ini. Cryptorchidism juga muncul pada beberapa sindrom lain seperti Down, prune belly dan Prader-Willi.

Cryptorchidism dapat dikelompokkan berdasarkan temuan fisik dan operatif, yaitu :

  1. True undescended testicles, termasuk intra abdominal, miksi di annulus interna dan canalicular testis, yang berada sepanjang jalur penurunan normal dan memiliki insersi gubernakulum yang normal.
  2. Ectopic Testicle, yang memiliki insersi gubernakulum yang abnormal
  3. Retractile Testicle, yang merupakan not trully undescended testicle, karena tidak ada terapi hormone atau operasi yang dibutuhkan pada kondisi ini (Fajrin, 2008).

Daftar Pustaka

Anonim. 2008. Criptorchid.

http://www.kittenspark.com/forum/index.php?f=34&t=1146&rb_v=viewtopic&start=15.

(diakses pada tanggal 17 Juni 2009)

Anonim. 2009 (a). Spermatogenesiswww.e-dukasi.net/mapok/mp_files/swf/f74.swf

(diakses pada tanggal 11 Juni 2009)

Anonim. 2009 (b). Spermatogenesis vs Oogenesis. http://www.fig.cox.miami.edu.

(diakses pada tanggal 11 Juni 2009)

Barlian, dkk. 2009. Gametogenesis. SITH ITB : Bandung.

Fajrin, dr. 2008. Undescended Testis (Cryptorchidism).

http://dokterkharisma.blogspot.com/2008/08/undescended-testis-cryptorchidism.html.

(diakses pada tanggal 17 Juni 2009)

Isnaeni, wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Penerbit Kanisius : Yogyakarta.

Koesharyono, drh, 2008. Penanganan Kasus Cryptorchismus (Testis Mono) Pada Anjing.

http://www.anjingkita.com/wmview.php?ArtCat=61

(diakses pada tanggal 17 Juni 2009)

Syamsuri, Istamar. 2003. Biologi SMA kelas IX. Erlangga. Jakarta.

About these ads

Perihal imam abror
Belajar menjadi yang terbaik di mata Alloh. Hidup ini singkat dan hanya satu kali, manfaatkan tidak hanya untuk kepentingan sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak, Alloh beserta orang-orang yang peduli….

5 Responses to Proses spermatogenesis, hormon reproduksi jantan, descendens testiculorum, dan chritochisdismus

  1. noni mengatakan:

    tulisanya bagus….. tapi kalau da gambar nya akan lebih bagus lagi….terus nulis ya….!!!!

  2. celline mengatakan:

    tx ea…..
    dh bantu tugas bio qmi…
    …hehehe…
    =D

  3. buboffess mengatakan:

    Kia code p2105
    :-D
    Taking codeine medication to dubai trip advisor
    Marbarborurse Medical billing and coding resume templates

  4. perdianto patattan mengatakan:

    bagus tulisanya tapi kalau ada diagaranya atw gambarnya mungkin lebih bagus

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: