Legislasi Pemanfaatn Hewan menurut UU dan Agama, Serta Sudut Pandang Reliogitas pada Profesionalitas Dokter Hewan


1. Mengetahui Legislasi Pemanfaatan Hewan di Indonesia

Berdasarkan UU No 18 Tahun 2009 dan Peraturan Pendukung.

2.        Mengetahui Sudut Pandang Reliogitas pada Profesionalitas Dokter Hewan.

3.         Mengetahui Konteks Agama Sebagai Landasan Berperilaku Sebagai Dokter Hewan

 

 

I. Mengetahui Legislasi Pemanfaatan Hewan di Indonesia Berdasarkan UU No 18 Tahun 2009 dan Peraturan Pendukung.

Pemanfaatan hewan menurut legislasi sudah diatur oleh UU terbaru, yaitu UU No 18 Tahun 2009.

Pada  BAB ketiga tentang Sumber Daya Genetik diantaranya pada

  1. Pasal 8
    1. Ayat 3 : Sumber daya genetic dikelola melalui kegiatan pemenfaatan dan pelestarian
    2. Ayat 4 : Pemanfaatan sumber daya genetic sebagaimana dimaksud pada ayat 3 dilakukan melalui pembudayaan dan pemuliaan.
    3. Ayat 5 : emanfaatan sumber daya genetic sebagaimana dimaksud pada ayat 3 dilakukan melalui konservasi didalam habitatnya dan/atau diluar habitanya serta upaya lainnya.
    4. Pasal 9 : Pada pasal ini mengatur orang yang ingin melakukan pemanfaatan sumber daya genetic harus melakukan perjanjian terlebih dahulu denagn penguasa Negara, maupun mengikuti peraturan perundangan dibidang konservasi Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
    5. Pasal 10-12 lebih mengatur tentang syarat-syarat yang harus dilakukan untuk masalah sumber daya genetic.

Pada BAB IV tentang Peternakan (bagian kesatu) Benih, Bibit dan Bakalan.

  1. Pada Pasal 13-16 lebih menekankan kepada kebijakan-kebijakan dan syarat-sayarta yang mengatut tentang bibit, bakalan, dan benih.
  2. Pada pasal 17 dan 18 justru lebih menekankan ke pemakaian dana pemanfaatan benih, bibit, maupun bakalan
    1. Pasal 17 ayat 1 : Perbaikan kualitas benih dan/atau bibit dilakukan dengan pembentukan galur murni dan/atau pembentukan rumpun baru melalui persilangan dan/atau aplikasi bioteknologi modern.
    2. Pasal 17 ayat 2 : Aplikasi bioteknologi modern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah agama dan tidak merugikan keanekaragaman hayati; kesehatan manusia, lingkungan, dan masyarakat; serta kesejahteraan hewan.
    3. Pasal 17 ayat 3 : Aplikasi bioteknologi modern sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilakukan khusus untuk menghasilkan ternak hasil rekayasa genetic harus memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan peraturan perundangundangan di bidang keamanan hayati produk rekayasa genetik.
    4. Pasal 18 ayat 1 : Dalam rangka mencukupi ketersediaan bibit, ternak ruminansia betina produktif diseleksi untuk pemuliaan, sedangkan ternak ruminansia betina tidak produktif disingkirkan untuk dijadikan ternak potong.
    5. Pasal 18 ayat 2 : Ternak ruminansia betina produktif dilarang disembelih karena merupakan penghasil ternak yang baik, kecuali untuk keperluan penelitian, pemuliaan, atau pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan.

Pada bagian kedua masih tentang peternakan yang mengatur masalah pakan, khusunya pasal 19 ayat 1 yaitu Setiapa orang yang melakuakn budi daya ternak wajib mencukupi kebutuhan pakan dan kesehatan ternaknya.

Pada bagian keempat mengenai budidaya termasuk juga dalam pemanfaatan.

  1. Pasal 27
    1. Ayat 1 : Budi daya merupakan usaha untuk menghasilkan hewan peliharaan dan produk hewan.
    2. Ayat 4 : Pelaksanaan budi daya dengan memanfaatkan satwa liar dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
    3. Pasal 28
      1. Ayat 1 : Pemerintah menetapkan hewan hasil budi daya yang memanfaatkan satwa liar sebagai ternak sepanjang populasinya telah mengalami kestabilan genetik tanpa bergantung lagi pada populasi jenis tersebut di habitat alam.
      2. Ayat 2 : Satwa liar baik dari habitat alam maupun hasil penangkaran dapat dimanfaatkan di dalam budi daya untuk menghasilkan hewan peliharaan sepanjang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tentang konservasi satwa liar.
      3. Pasal 29
        1. Ayat 1 : Budi daya ternak hanya dapat dilakukan oleh peternak, perusahaan peternakan, serta pihak tertentu untuk kepentingan khusus.

Untuk sanksi adminsitratif hanya dikenakan pada pasal 18 ayat 2, seperti yang dikuti di undang-undang pada BAB 12 Tentang Sanksi Administratif pasal 85 ayat 1 dan ayat 4 dan 5

  1. Ayat 1 : Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1), Pasal 11 ayat (1), Pasal 13 ayat (4), Pasal 15 ayat (3), Pasal 18 ayat (2), Pasal 19 ayat (1), Pasal 22 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 23, Pasal 24 ayat (2), Pasal 25 ayat (1), Pasal 29 ayat (3), Pasal 42 ayat (5), Pasal 45 ayat (1), Pasal 47 ayat (2) atau ayat (3), Pasal 50 ayat (3), Pasal 51 ayat (2), Pasal 52 ayat (1), Pasal 54 ayat (3), Pasal 58 ayat (5), Pasal 59 ayat (2), Pasal 61 ayat (1) atau ayat (2), Pasal 62 ayat (2) atau ayat (3), Pasal 69 ayat (2), dan Pasal 72 ayat (1) dikenai sanksi administratif.
  2. Ayat 4 : Besarnya denda sebagaimana dimaksud pada huruf e dikenakan kepada setiap orang yang:
    1. menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif paling sedikit sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah);
    2. menyembelih ternak ruminansia besar betina produktif paling sedikit Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) dan paling banyak sebesar Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah); dan
    3. melanggar selain sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b paling sedikit Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) dan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
    4. Ayat 5 : Besarnya denda sebagaimana dimaksud pada ayat (4) ditambah 1/3 (sepertiga) dari denda tersebut jika pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pejabat yang berwenang atau korporasi

Sedangkan untuk sanksi Pidana terdapat pada BAB 13 tentang Ketentuan pidana pasal 18

  1. ternak ruminansia kecil betina produktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 6 (enam) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah); dan
  2. ternak ruminansia besar betina produktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 9 (sembilan) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp5.000.000,00 (lima juta rupiah) dan paling banyak Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah)  (Anonim, 2009 (e)).

 

  1. II. Mengetahui Sudut Pandang Reliogitas pada Profesionalitas Dokter Hewan.

Sebagai seorang dokter hewan kita harus mempunyai sebuah landasan agama untuk mengaplikasikan ilmu-ilmu yang telah didapat. Banyak permsalah yang dihadapi sebagai seorang dokter hewan dalam menghadapi proses aplikasi sesuai dengan anjuran agama yang telah dituliskan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits maupun hasil ijtihad dari para ulama. Maka dari itu kita wajib menseleksi hal-hal yang tidak dibolehkan dan dibolehkan oleh agama. Dalam proses aplikasi dokter hewan sekarang, keadaan sekarang sudah sangat berbeda, teknoloi tentang masalah kedokteran hewan sudah semakin canggih. Kita sebagai dokter hewan dan sebagai umat beriman maka kita harus mensikapi hal-hal tersebut dengan bijaksana maupun sesuai dengankaedah yang telah diajarkan oleh agama.

Masalah pertama adalah tentang rekayasa genetic menurut agama Islam. Contohnya saja Kloning, Kloning jika pada manusia ada yang membolehkan menurut agama maupun ilmuwan, dan ada yang tidak membolehkan, juga menurut agama dan para ilmuwan. Hal ini didasari dari ijtihad masing-masing ulama, karena cloning memang tidak ada dalil yang menagturnya.

Sedangkan kloning dalam ranah binatang dan tumbuh-tumbuhan, maka Islam secara jelas membolehkannya, apalagi kalau tujuannya untuk meningkatkan mutu pangan dan kualitas daging yang dimakan manusia. Selain itu, karena binatang dan tumbuh-tumbuhan tidak perlu mengetahui tentang asal-usul garis keturunannya (Anonim, 2009 (a)).

Upaya memperbaiki kualitas tanaman dan hewan serta meningkatkan produktivitasnya tersebut menurut syariat Islam tidak apa-apa untuk dilakukan dari termasuk aktivitas yang mubah hukumnya.  Oleh karena itu, dibolehkan memanfaatkan proses kloning untuk memperbaiki kualitas tanaman dan mempertinggi produktivitasnya atau untuk memperbaiki kualitas hewan seperti sapi, domba, onta, kuda dan sebagainya. Juga dibolehkan memanfaatkan proses kloning untuk mempertinggi produktivitas hewan-hewan tersebut dan mengembangbiakannya, ataupun untuk mencari obat bagi berbagai penyakit manusia, terutama penyakit-penyakit yang kronis (Anonim, 2009 (b).

Masalah selanjutnya adalah inseminasi buatan dan bayi tabung. Inseminasi buatan pada manusia jika menggunakan sperma orang ketiga (bukan sperma suami) maka tidak diperbolehkan, hal ini karena merujuk kepada larangan berzina dan Rosulluloh SAW telah menyampaikan “Tidak ada dosa lebih berat dari perbuatan syirik (menyekutukan Tuhan) melainkan dosa seseorang yang mentransplantasikan “benih” kepada rahim wanita yang tidak halal baginya” Dan untuk teknik bayi tabung bagi manusia juga sama, jika dari sperma, ovum dan media pembuatannya adalah laki-laki dan perempuan yang sudah nikah, maka semuanya halal. Tetapi jika ada salah satu yang bukan milik suami istri tersebut maka haram hukumnya.

Berbeda dengan hewan. Jika inseminasi buatan untuk hewan semaunya diperbolehkan karena tidak ada sebuah ikatan kehalalan untuk hewan jantan maupun betina. Hal ini dikarenakan bertujuan untuk mempertinggi kualitas dan meningkatkan hasil produksi (Anonim, 2009 (c)).

Masalah selanjutnya adalah hewan dikebiri, dalam Islam hewan dikebiri hukumnya mubah atau boleh. Namun beberapa pendapat ulama tentang hewan yang dikebiri dan dijadikan hewan Qurban ada yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.

  1. Ulama Hanafiah : Membolehkan hewan dikebiri untuk dijadikan hewan qurban dan berhukum makruh, tetapi tetap sah untuk dijadikan hewan qurban.
  2. Ulama Malikiah : Tidak membolehkan hewan yang dikebiri untuk dijadikan hewan qurban.
  3. Ulama Hanabilah : Hukumnya makruh hewan yang dikebiri untuk dijadikan hewan qurban, tetapi tetap sah untuk dijadikan hewan qurban.
  4. Ulama Safiiah : Hukumnya makruh hewan yang dikebiri untuk dijadikan hewan qurban, tetapi tetap sah untuk dijadikan hewan qurban (Anonim, 2009 (d)).

 

  1. III. Mengetahui Konteks Agama Sebagai Landasan Berperilaku Sebagai Dokter Hewan.

Konteks agama yang dimaksud disini adalah agama Islam, karena agama tersebut merupakan agama keyakinan saya. Jadi kita sebagai sebagai dokter  hewan harus mempunyai landasan yang kuat agar segala apa yang kita lakukan tidak menyimpang sesuai dengan kaidah agama yang sudah dipelajari.

Rosulluloh SAW pernah menjawab pertanyaan sahabatnya yang bertanya : “wahai Rosulluloh apakah kita mendapatkan pahala karena berbuat baik kepada binatang? Rosulluloh menjawab : “ Berbuat kepada semua makhluk hidup akan mendapat pahala” (Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim). Jadi hadits tersebut sudah jelas, bahwasannya menolong terhadap setiap makhluk hidup merupakan sesuatu kebajikan. Banyak dilema yang terjadi bagi seorang muslim, apakah kita boleh menolong babi? Anjing? Yang didapat di Al-Quran bahwasannya babi diharamkan oleh Alloh SWT, dan anjing merupakan hewan najis, dan haram dagingnya sesuai dengan hadits. Kedilemaan tersebut sudah bisa dijawab dengan membaca dan menafsirkan hadits tersebut, bahwasannya apapun hewannya, jika hewan tersebut membutuhkan pertolongan maka tugas kita adalah menolongnya, apalagi kita sebagai seorang dokter hewan. Dokter hewan merupakan orang yang ahli dalam mengobati penyakit hewan. Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Barangsiapa yang mengobati hewan, namun tidak menguasai ilmuanya, maka ia harus bertanggung jawab.

Kembali kepada masalah menolong hewan-hewan yang dikategorikan haram maupun najis oleh Alloh SWT dan Nabi Muhammad SAW.  Jadi menurut saya kita boleh menolong hewan yang sedang dalam keaadaan yang emergency maupun sakit. Karena hal tersebut juga diperkuat oeh hadits dari “Abu huroiroh ra bahwasannya  Rosullulah SAW pernah berkata : Suatu ketika ada seekor anjing mengelilingi sebuah sumur, karena dahaga yang hampir membunuhnya. Tiba-tiba seorang pelacur dari Bani Isroil melihatnya, lalu ia melepas sepatunya untuk mengambil air, dan memberikannya kepada anjing itu. Maka minumlah anjing itu hingga kenyang. Dikarenakan perbuatannya, Alloh pun mengampuni sang pelacur tersebut (HR: Bukhori dan Muslim). Seorang pelacur diampuni dosa-dosanya gara-gara memberikan minum kepada anjing yang sedang kehausan. Hal ini akan lebih menguatkan kita bahwasannya semua makhluk hidup tidak memandang haram maupun najis, jika makhluk hidup tersebut membutuhkan pertolongan, maka kita wajib menolongnya.

Kita sebagai dokter hewan juga harus mempunyai landasan berperilaku kepada hewan, sesuai dengan kaedah agama kita. Abdullah bin Ja’far r.a. berkata: Suatu hari Rosululloh saw. memboncengkan saya dibelakang beliau. Lalu dibisikkannya sesuatu rahasia yang tidak akan saya beritahukan kepada siapapun. Kemudian Rosululoh masuk ke suatu perkebunan seorang dari kaum Anshor. Beliau menemukan di dalamnya seekor unta dan ketika melihat onta itu beliau menaruh belas kasihan sampai-sampai menangis. Maka Rosululloh mendekati dan mengelus kepalanya. Lalu beliau bertanya: siapa pemilik onta ini? Onta ini milik siapa? Kemudian datanglah seortang pemuda dari kaum Anshor, ia berkata: Onta ini milik saya ya Rosululloh. Rosululloh bersabda: tidakkah engkau takut kepada Alloh dalam hal hewan yang telah dianugerahkan kepadamu? Sungguh onta ini telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya lapar dan sering membuatnya capai (HR: Ahmad dan Abu Dawud). Hewan juga merupakan makhluk hidup yan harus dikasihani, diberi makan, diberi minum, hewan itu juga merupakan makhluk ciptaan Alloh SWT. Hal ini menandakan bahwasannya Alloh pun akan marah, jika makhluk ciptaanya dianiaya. Dalam hadits lain Ibnu Umar ra berkata, bersabda Rosululloh: Seorang perempuan masuk ke dalam neraka dikarenakan seekor kucing yang diikatnya (dikurung) hingga mati, namun ditidak diberi makan dan tidak diberi minum, dan tidak dilepas agar bisa mencari makan di tempat lain di bumi (HR: Bukhori), Alloh SWT pun akan memasukkan seseorang ke neraka, gara-gara menyiksa hewan. Hal inilah yang harus kita pakai sebagai landasan, bahwasannya kita harus menempatkan seekor hewan seperti kita menempatkan seorang manusia.

Dalam hadits lain juga diriwayatkan “Dari Ibnu Abbas ra: disebutkan bahwa Rosulullooh saw melewati seekor keledai yang diberi cap bakar di mukanya, lalu beliau bersabda: Alloh melaknat orang yang telah memberinya cap bakar. (HR Muslim)” Sungguh mengerikan siksa diakhirat yang diberikan ketika kita menyiksa seekor hewan. Hadits lain juga yang berbunyi Dari Abu Hurairoh disebutkan: “Hendaklah kalian tidak menjadikan punggung hewan ternak sebagai tempat duduk. Karena Alloh menciptakanya untuk kalian, agar ia mengantar ke suatu tempat yang tidak bisa dicapai kecuali dengan susah payah. Dan Alloh telah menciptakan bumi untuk kalian, maka penuhilah kebutuhan-kebutuhan kalian di atasnya” (HR At-Tirmidzi)”

Hewan juga merupakan makhluk hidup CiptaanNya, sudah waktunya kita memperlakukan hewan seperti memperlakukan seorang manusia. Agama merupakan landasan kita dalam kita berperilaku. Alloh SWT dan Rosulluloh SAW telah menyampaikan beberapa perilaku yang harus kita lakukan kepada hewan (Irkham, 2009).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. 2009 (a).  Hukum Kloning dalam Perspektif Islam.

http://gudangmakalah.blogdetik.com/2009/03/13/hukum-kloning-dalam-perspektif-agama-islam-dan-imuwan-barat/

(diakses pada tanggal 2 November 2009)

 

Anonim. 2009 (b). Hukum Islam Mengenai Kloning Tanaman dan Hewan.

http://kaunee.com/index.php?option=com_content&view=article&id=453:hukum-islam-mengenai-kloning-tanaman-dan-hewan&catid=94:islam-dan-science&Itemid=131

(diakses pada tanggal 2 November 2009)

 

Anonim. 2009 (c).  Bayi Tabung & Inseminasi Buatan. http://www.fathurin-zen.com/?p=85

(diakses pada tanggal 3 November 2009)

 

Anonim, 2009 (d). Kriteria Hewan Qurban.

http://ikadabandung.wordpress.com/2007/12/03/kriteria-hewan-qurban/

(diakses pada tanggal 3 November 2009)

 

Anonim. 2009 (e). UU RI Nomor 18 Tahun 2009 Tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

 

 

 

About these ads

Perihal imam abror
Belajar menjadi yang terbaik di mata Alloh. Hidup ini singkat dan hanya satu kali, manfaatkan tidak hanya untuk kepentingan sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak, Alloh beserta orang-orang yang peduli….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: