Pemeriksaan Kuda


Tujuan Pembelajaran   :           1. Mengethaui Metode Pemeriksaan Pada Kuda.

2. Mengetahui Analgetika

 

  1. I.                   Metode Pemeriksaan Pada Kuda.
    1. A.    Registrasi

Registrasi yaitu: pencatatan data pemilik dan data dari pasien. Registrasi untuk klien meliputi pencatatan nama, alamat, dan nomor telepon klien. Registrasi untuk pasien meliputi breed (ras), sex (jenis kelamin), age (umur), dan specific pattern (tanda yang menciri) (B-S-A-S). Registrasi ditulis di sebuah kertas yang disebut ambulatoir, dimana masnig-masing spesies hewan berbeda-beda warnanya. Pada kuda dan hewan besar berwarna pink.

Materi lain untuk Registrasi antara lain Keterangan status vaksinasi dan keadaan kesehatan, keterangan tentang penyakit yang sedang diderita serta penanganan yang sudah dilakukan, alasan konsultasi, sejarah penyakit, hasil Pemeriksaan, hasil pemeriksaan tambahan (laboratorium, Rongent, Histopat dll). Diagnosis, Prognosis, dan terapi/pengobatannya, tindakan operasi dan rujukan

  1. B.     Anamnesa

Anamnesa merupakan wawancara terhadap klien untuk mendapatkan kunci mengenai keadaan pasien. Menurut Boddie (1962), dokter hewan harus dapat memilah-milah mana yang relevan dan irelevan dari jawaban klien terhadap pertanyaan dokter hewan.

Dengan anamnesa drh dapat mengetahui informasi tentang Gambaran keadaan hewan mulai sakit sampai sekarang, Kejadian – kejadian pada waktu lampau yang ada hubunganya dengan penyakit yang sekarang diderita. Keadaan lingkungan, hewan yang serumah/ sekandang, tetangg dsb

Menurut Boddie (1962), sejarah dari suatu kasus dapat dibagi menjadi pre historyimmediate history, dan post history.

Prehistory. Merupakan ceerita mengenai kejadian-kejadian sebelum terjadinya penyakit yang dikomplainkan klien. Misalnya saja penyakit yang dulu pernah diderita pasien, kehamilan yang dulu pernah dialami pasien (jika betina), komplikasi yang terjadi pada kehamilan yang terdahulu, mungkin  juga penyakit yang pernah dialami teman bermain si kuda, cara pemberian makan, dan mungkin juga keadaan lingkungan tempat tinggal atau kandang kuda.

Immediate history. Merupakan sejarah sejak hewannya pertama kali menunjukkan gejala penyakit yang dikomplainkan oleh klien hingga saat pasien dibawa dan dirawat oleh dokter hewan. Di sini klien dapat menceritakan kemungkinan terjadinya penyakit pada klien menurut apa yang dilihatnya.

Post History. Merupakan sejarah dimana hewan tersebut menunjukann gejala atau perubahan-perubahan setelah dirujuk ke dokter hewan lain atau dengan pemberian obat terlebih dahulu sebelum dirujuk ke dokter hewan.

Riwayat penyakit atau anamnesis merupakan suatu riwayat penyakit yang baik dari hanya dapat diperoleh dari seorang pengamat yang baik. Seringkali pemilik hewan kurang dapat memberikan keterangan yang berguna disbanding dengan orang yang merawat hewan sehari-hari. Riwayat dapat pula bersifat tidak benar oleh karena riwayat tersebut mungkin hendak digunakan untuk menutupi suatu kelainan atau menyembunikan suatu usaha-usaha pengobatan sebelunya sedangan alasan tersebut pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus disusun ulang untuk meyakinkan persoalan-persoalan yang penting dalam pencacatan riwayat(Lane, D. R., 2003).

  1. C.    Handling dan Restrain

Hal yang pertma dilakukan untuk menghandling maupun melakukan restrain kuda adalah mengusahakan agar kuda mengenali pemeriksa dan tidak curiga atau terkejut dengan mendekatkan punggung tangan dekat cuping hidung agar dicium baunya. Rabalah punggung hidung pelan-pelan. Bila masih ada kesulitan, maka pasanglah pram pada bibir atas dengan menggerak-gerakan pram agar perhatian terpusat ke daerah tersebut pram tidak boleh dipasang lebih dari 2 jam karena dapat menyebabkan nekrose (.Sonsthagen, Teresa. F. 1991)

 

 

 

 

 

 

Pada waktu melakukan pemeriksaan eksplorasi rektal atau melakukan pemeriksaan lain didaerah belakang untuk menghindari sepakan, bila perlu salah satu kaki depan diangkat, disamping itu tubuh pemeriksa diletakan pada perut atau sebelah depan paha, sehingga kuda idak mungkin menyepak (Sonsthagen, Teresa. F. 1991).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Restrain kuda yang lain bisa menggunakan chain twitch semacam pram tetapi terdiri dari rantai yang digunakan untuk menjepit bagian bibir dan juga bisa digunakan unutk membuka mulut kuda dengan dipasangkan diantara bibir atas dan bawah, kemudian humane twitch menyerupai tang yang kegunaan nya sama dengan pramm. Selain itu agar lebih aman dalam melakukan pemeriksaan terutama pada bagian belakang bisa menggunakan kandang jepit (Sonsthagen, Teresa. F. 1991).

Menggunakan tali juga bisa untuk merestrain kuda dengan mengikatkan dari bagian leher kekaki belakang melali daerah abdomen sehingga ketika kuda menyepak maka kuda akan tersungkur dan terjatuh. Selain dengan mengalihkan perhatian kuda juga bisa dengan menutup mata kuda agar dia tidak respon yerhadap lingkungan sekitarnya tetapi jangan memberikan suara atau sentuhan-sentuhan yang membuat kuda terkejut (Sonsthagen, Teresa. F. 1991).

  1. D.    Pemeriksaan Umum

Pemeriksaan umum pada kuda meliputi :

  1. Inspeksi

Inspeksi dilakukan dari segala arah. Mulai dari sikap dan posisi normal atau abnormal, apakah hewan mampu berdiri, ekspresi muka, kondisi tubuh, tempramen, bau-bau dan suara-suara abnormal.

  1. Pemeriksaan pulsus

Pemeriksaan pulsus pada kuda dilkukan pada arteria maxillaries externa pada bagian incisura vasorum. Pulsus normal pada kuda adalah 36-48 x/menit

  1. Pemeriksaan pernapasan

Pemeriksaan nafas dapat dihitung dengan memerhatikan gerakan rongga dada pada hewan istirahat dan tenang, atau dengan memerhatikan gerakan cuping hidung. Frekuensi nafas normal pada kuda adalah 14-48 kali/menit.

  1. Pemeriksaan temperature.

Pemeriksaan temperature pada kuda, sama dengan pemeriksaan pada hewan lainnya, yaitu memasukkan thermometer pada rectum.Temperatuer normal pada kuda adalah 37-390C.

  1. Selaput Lendir

Pemeriksaan dilakukan pada conjunctiva mata, apakah hewan tersebut mengalami penyakit atau tidak. Perbadaan warna pada konjunctiva natara lain

  1. Apabila berwarna merah maka teradi hyperemis
  2. Apabila berwarna kuning maka terjadi ichteris
  3. Apabila berwarna pucat maka hewan terjadi anemis
  4. Apabila berwarna biru maka hewan terjadi cyonatis (kurang oksigen)
  5. E.     Pemeriksaan Per System
    1. A.    System Pencernaan
      1. Mulut

Pada kuda betina memasukkan tangan juga bisa lewat spatium interalveolare (terkadang kuda betina bertaring). Membuka mulut kuda juga bisa dilkukan dnegn alat pembuka mulut seperti mouth gag (baji dan bayer). Setelah mulut terbuka perhatikan mukosa mulut dan gigi geliginya, perhatikan apakah ada cacat letak/bentuk atau karies gigi atau gangguan prehensi. Memerhatikan juga bau mulut (caries dentis).

  1. Pharynk

Pharynk dipalpasi bisa dari luar, sekalian dapat meraba lgl.mandibularis dan parapharingelais. Inspeksi pharynk dapat memakai rhinopharyngoscope. Pada kuda espohagusny lebih sempit dan lebih  Inspeksi pharynk dapat memakai rhinopharyngoscope. Pada kuda espohagusnya lebih sempit dan lebih tipis serta lebih panjang dari pada sapi.

  1. Abdomen

Gangguan abdomen pada kuda hampir selalu disertai kolik, selanjutnya memerhatikan tigkah laku kuda akibat adanya kolik. Memerhatikan frekuensi nafas, frekuensi pulsus, conjunctiva, keringat, defeksi, kemungkinan terjadinya muntah, eksplorasi rectal, kemungkinan adanya rasa nyeri (tympani usus). adanya obstructant (pada flexura pelvina), lipatan penggantung usus (pada volvulus dan invaginatio).

  1. B.     System Pernafasan

Memerhatikan adanya aksi-aksi atau pengeluaran-peneluaran abnormal seperti batuk, bersin, hick up. Memerhatikan frekuensi dan tipe nafas dan perbandingan frekuensi nafas dengan pulsus.

Pada kuda pada khusunya, waktu dan frekuensi nafas diperhatikan pada cuping hidung. Selanjutnya memerhatikan lesi-lesi yang berhubungan dengan penyakit spesifik serta juga memerhatikan limfoglandula regional.

Kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan palpasi pahrynk, larynk dan trakhea dari luar apakah ada reaksi btuk, temparaturenya serta jangan lupa memerhatiakan limfoglandula reigional.

Pada pemeriksaan rongga dada, adalah melakukan perkusi serta aukultasi. Daerah perkusi dan auskulti adalah dengan menarik garis bayangan lewat titik-titk orientasi antara lain :, menerik garis lurus dari angulus scapulae caudalis ke olecranon ulnae. Pada batas atas adalah menarik garis horizontal dari angulus scapulae caudalis sampai intercostae kedua yang dihitung dari belakang. Pada garis belakang bawah adalah menarik garis lengkung dariujung belakang garus batas atas ke olecranon ulnae melalui titik orientasi sebagai berikut

  1. pertama daerah 1/3 atas melalui intercostae ke 3 dihitung dari belakang
  2. kedua daerah 1/3 tengah melalui intercostae ke 5 dihitung dari belakang.
  3. ketiga daerah 1/3 bawah melalui intercostae ke 7 dihitung dari belakang.
  4. C.    System Kardiovaskuler

Pada system kardiovaskular, pemeriksaan dilakukan baik secara inspeksi, auskultasi, palpasi dan perksusi. Hal yang pertama dlkaukan adalah mengulangi pemeriksaan pulsus dengan menghitung frekuensinya, ritme, serta kualitasnya.

Pad pemeriksaan jantung dapat dilihat frekuensi, ritme dan kualitas pada daerah pekak jantung. Pada pemeriksaan auskultasi kuda kuda bagian sinister batas muka dan belakang dari rusuk ke 3 sampai dengan ke 6 (hampir sama dengan batas dada sebelah bawah). Sedangkan pada sebelah kanan adalah antara rusuk ke 4- samapi dengan rusuk ke 6.  Sedangkan pada pemeriksaan perkusi dilakukan pada daerah pekek jantung (kiri maupun kanan), memerhatikan apakah ada pelebaran daerah pekak jantung.

  1. D.    Sytem Limfatik

Limfogalandula pada kuda yang dapat dipalpasi antara lain adalah lgl. submaxillaris, lgl praescpularis. lgl pharyngelais, lgl cervikalis cranialis, lgl cervikalis medius, lgl cervikalis caudalis, lgl axillaris, lgl cubiti, lgl ingunalis profunda, lgl poplitea.

Sedangkan limfogalndula yang tidak dapat dipalpasi dari luar, namun dapat tampak karena pembengkakan antara lain, lgl. bronchialis, lgl mediastinalis posterior, lgl mesenterialis.

  1. E.     System Lokomotor

Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan system lokomotor adalah memerhatikan apakah hewan sukar berdiri, sukar jongkok, pincang, apakah ada kekakuan. Selanjutnya adalah melihat dari muskuli dengan inspeksi, membandingkan antara ekstemitas kanan dan kiri apakah ada perbedaan besar otot dan perbedaan kontur. Palpasi juga dilakukan, serta memerhatikan suhu dari muskuli tersebut, dan jika di plapasi timbul rasa nyeri atau tidak, biasanya yang terjadi pada kuda adalah azoturia.

Pada pemeriksaan tulang, adalah dengan memerhatikan apakah ada tulang yang bengkok atau tidak, dengan cara meluruskan atau menggerak-gerakkan tulang serta apakah timbul rasa nyeri atau tidak. Pemeriksaan radiologic dilakukan apabila diperlukan.

Pada pemeriksaan persendian adalah melakukan palpasi apakah ada penebalan maupun terdapat cairan sinovoal, serta apakah ada rasa sakit dari hewan jika digerak-gerakkan.

Pada pemeriksaan teracak adalah dengan memerhatikan apakah terdapat pincang tumpu, dengan beban berat dipindahkan ke kaki lainnya. Melakukan palpasi pada a.digitalis, pakah ada kenaikan suhu atau tiadak.

  1. F.     System uropotika

Pemeriksaan organ uropoetika dapat dilihat gejala-gejala yang menunjukkan sifat gejala dari organ uropoetika antara lain (kulit, pulsus, selaput lender, dan lumbar pain). Memerhatikan juga sikap hewan dalam melakukan urinasi, memerhatikan juga warna urin dan adanya anomaly.

Pemeriksaan selanjutnya adalah melakukan palpasi pad ginjal serta vesika urinaria, atau dengan melakukan kateterisasi serta pemeriksaan urin.

  1. G.    Syetem genital

System genital dapat dilakukan pemeriksaan mulai dari inspeksi organ genital yang ada diluar, sampai dengan melakukan eksplorasi rectal mengenai norma dan, keabnormalan dari organ genital bagian dalam atau juga dilakukan pemeriksaan lebuntingan dari kuda tersebut.

  1. H.    Syetem Saraf dan reflex
Nervus Tes Respon Normal Respon Abnormal
I. Olfaktori Substansi berbau Mengendus, mundur, menjilat Tak ada respon
II.Optik Refleks pupil terhadap cahaya, mengancam Berkedip

Ada respon mata secara langsung

Tak ada respon
III.Oculomotor Refleks pupil terhadap cahaya

Melihat kemampuan mata mengikuti objek

Ada respon pupil secara langsung

Ada pergerakan mata

Tak ada respon

Pergerakan yang tidak sama dari kedua mata

IV.Trochlear Observasi Posisi mata normal Dorsomedial strabismus
V.Trigeminal Observasi

Palpasi temporalis

Refleks kornea

Refleks palpebra

Dapat menutup mulut, Tonus normal otot, Mata berkedip, Kedipan mata Rahang tak bisa ditutup

Atrofi otot

Tak ada kedipan

Tak ada kedipan

VI. Abducens Observasi Posisi mata normal Medial strabismus
VII.Facial Observasi

Refleks kornea

Refleks palpebra

Ancaman

Wajah simetris

Kedipan mata

Kedipan mata

Kedipan mata

Bibir menggantung

Tak berkedip

Tak berkedip

Tak berkedip

VIII.Akustik/ auditori Tepukan tangan

 

Respon terkejut Tak ada respon
   IX.Glossopharingeal Gag refleks Menelan Tak ada respon
X.Vagus Gag refleks

Refleks oculocardiac

Refleks laringeal

Menelan

Bradycardia

Batuk

Tak ada respon

Tak ada respon

 

Tak ada respon

XI.Accesorius Palpasi otot leher Tonus otot normal Atrofi otot
XII.Hypoglosal Tarikan lidah Retraksi lidah Tak ada respon

( McCurnin, 2005 )

 

Pada refleks diperiksa

  1. refleks superfisial yang terdiri atas reflek conjungtiva, cornea, pupil, perineal, dan pedal.
  2. reflek superfisial diperiksa reflek patella dan reflek tarsal.
  3. Sedangkan untuk reflek organik diperiksa reflek menelan, respirasi dan defekasi (Surono,2008).

Setelah melakukan berbagai tahap pemeriksaan tersebut, diharapkan dokter hewan dapat membuat diagnosa yaitu kesimpulan keadaan gangguan atau penyakit yang dialami pasien setelah diperiksa. Lalu dapat membuat prognosis atau gambaran jalannya penyakit, kalau diobati bagaimana, kalau tidak bagaimana. Ada 3 macam prognosis yaitu fausta (kearah baik/sehat/nilai kesembuhan >50%) dubius (ragu-ragu/ nilai kesembuhan 50%), dan infausta (ke arah jelek/ nilai kesembuhan <50%) (Surono,2008).

  1. F.     Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan secara laboratorium dapat dilakukan dengan mengambil specimen, antara lain darah, feses, maupun makanan. Spesimen darah dapat diambil pada vena jugularis. spesmen makanan dapat diambil dengan zonde yang dimasukkan melalui hidung menuju lambung, yang selanjutnya diisi air zonde tersebut kemudaia ingesta didalam lambung dikeluarkan. Ingesta ini yang nantinya akan menjadi specimen dari bahan makanannya.

 

  1. II.                Analgetika

Analgetika merupakan senyawa yang dalam dosis teraupetik meringankan atau menekan rasa nyeri, tanpa memiliki kerja anastesi umum. Berdasarkan potensi kerja, mekanisme kerja dan efek samping analgetika dibedakan dalam dua kelompok :

  1. Analgetika Narkotika atau Analgetika kuat

Potensinya kuat, bekerja dalam system saraf pusat, dan tidak bisa digunakan sebagai anti radang.

Co : Morfin dan codein

  1. Analgetika non-Narkotika atau analgetika lemah

Potensinya lemah, bekerja di system saraf perifer, dapat digunalkan sebagai antipiretika dan anti inflamasi.

Co : Asam salisilat, Para amino fenol, derivate pirazolon ((Muthsler, 1991).

Nyeri timbul jika rangsang mekanik, termal, kimia, atau listrik melampaui suatu nilai ambang nyeri dank arena itu menyebabkan kerusakan jaringan dengan pembebasan senyawa nyeri. Nyeri menurut tempat kerjanya dibagi menjadi nyeri somatic dan nyeri visceral. Nyeri somatic dibagi lagi menjadi 2, yaitu nyeri permukaan yang bertempat di kulit dan nyeri dalam yang bertempat di otot, persendian, tulang, dan jaringan ikat.

Untuk mempengaruhi nyeri dengan obat, kemungkinan dapat terjadi berikut ini:

  1. Mencegah sensibilisasi reseptor nyeri dengan cara penghambatan sinesis prostaglandin dengan analgetika yang bekerja perifer
  2. Mencegah pembentukan rangsang dalam reseptor nyeri dengan memakai anestesi permukaan atau anestetika infiltrasi
  3. Menghambat penerusan rangsang dalam serabut saraf sensorik dengan anestetika konduksi
  4. Meringankan nyeri atau meniadakan nyeri melalui kerja dalam sistem saraf pusat dengan analgetika yang bekerja sistem saraf pusat dengan analgetika yang bekerja pada pusat atau obat narkosis
  5. mempengaruhi pengalaman nyeri dengan psikofarmaka (transkuilansia, neuroleptika, antidepresiva).

Mekanisme kerja analgetika

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengobatan nyeri beberapa jenis analgetik (obat pereda nyeri) bisa membantu mengurangi nyeri. obat ini digolongkan ke dalam 3 kelompok:

  1. Analgetik Opioid (narkotik)

Analgetik opioid merupakan pereda nyeri yang paling kuat dan sangat efektif untuk mengatasi nyeri yang hebat. Secara kimia analgetik opioid berhubungan dengan morfin yang merupakan bahan alami yang disarikan dari opium, walaupun ada yang berasal dari tumbuhan lain dan sebagian lainnya dibuat di laboratorium. Analgetik opioid sangat efektif dalam mengurangi rasa nyeri namun mempunyai beberapa efek samping. Semakin lama pemakai obat ini akan membutuhkan dosis yang lebih tinggi. selain itu sebelum pemakaian jangka panjang dihentikan, dosisnya harus dikurangi secara bertahap, untuk mengurangi gejala-gejala putus obat.

  1. Analgetik Non-Opioid

Semua analgetik non-opiod (kecuali asetaminofen) merupakan obat anti peradangan non-steroid (nsaid, nonsteroidal anti-inflammatory drug). Obat-obat ini bekerja melalui 2 cara yaitu mempengaruhi sistem prostaglandin, suatu sistem yang bertanggungjawab terhadap timbulnya rasa nyeri dan mengurangi peradangan, pembengkakan dan iritasi yang seringkali terjadi di sekitar luka dan memperburuk rasa nyeri.

  1. Analgetik Ajuvan

Analgetik ajuvan adalah obat-obatan yang biasanya diberikan bukan karena nyeri, tetapi pada keadaan tertentu bisa meredakan nyeri. Contohnya, beberapa anti-depresi juga merupakan analgetik non-spesifik dan digunakan untuk mengobati berbagai jenis nyeri menahun, termasuk nyeri punggung bagian bawah, sakit kepala dan nyeri neuropatik. Obat-obat anti kejang (misalnya karbamazepin) dan obat bius lokal per-oral (misalnya meksiletin) digunakan untuk mengobai nyeri neuropatik.

Analgesi, premedikasi dan anastesi mempunyai manfaat parallel, baik dalam kedokteran hewan maupun kedokteran manusia. Penggunaan pentobarbitalis sodium secara intravena atau intraperitoneal dan penggunaanhalothane dan methoxyflurane secara inhalasi dengan system open method atau close method sebagai obat tunggal atau setelah diberi premedikasi meruoakan salah satu cara pemberian yang paling sering digunakan.

Pemberian obat-obatan untuk menimbulkan analgesi, premedikasi dan anastesi harus ditujukan untuk meminimalkan rasa  nyeri pada suatu jangka tertentu.pada kenyataannya, obat-obatan tersebut ternyata berpengaruh terhadap system tubuh yang lain, sehingga efeknya pada fungsi fisiologi juga harus dapat diketahui atau dideteksi.

Pada kuda pemberian secara intramuscular atau subkutan : lidocaine, prilocaine, mepivacaine (LOK, ANAL). Dalam kasus kepincangan diagnosa blokade saraf harus diusahakan. Salah stunya dengan melokalisir sumber masalah atau engkonfirmasikan bagian yang dicurigai. Hal ini mungkin dilakukan dengan blokade saraf sensoris yang menginversi region spesifik atau dengan injeksi local anestesi intraartikular. Untuk injeksi intraartikular, penempatan yang benar dari jarum di ruas sendi dapat ditunjukkan dari tetesan cairan sinovial dari jarum atau mungkin diperoleh dari aspirasi jarum. Hal yang penting untuk menggunakan sarung tangan steril untuk injeksi intraartikular dan lebih baik jika lapangan operasi dicukur.  Bagian yang diperiksa harus dipersiapkan dengan baik dengan menggosokan 2-3 kali minimal selama 1 menit dengan providone-iodine, kemudian dibersihkan dengan alcohol 70% dan diberi yodium. Penting  menggunakan jarum baru untuk masuk ke ruas sendi, kemudian jarum diaspirasi dan obat anestetik local dimasukkan melalui syringe (McCurnin D.M. 2005).

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lane, D. R., 2003. Veterinary Nursing. Butterworth & Heinemann, UK.

 

McCurnin D.M. 2005. Clinical Textbook for Veterinary Technicians 6th ed. Elsevier Health

sciences. UK.

 

Mutshler, Ernst. 1991. Dinamika Obat. Bandung : Penerbit ITB.

 

Sonsthagen, Teresa. F. 1991. Restrain of Domestic Animal. Americsan Veterinary

Publication, inc. Goleta, California

Surono, dkk. 2010. Petunjuk Praktikum Diagnosa Klinik Veteriner. Bagian Ilmu Penyakit

Dalam FKH-UGM. Yogyakarta

.

 

 

 

 

 

 

About these ads

Perihal imam abror
Belajar menjadi yang terbaik di mata Alloh. Hidup ini singkat dan hanya satu kali, manfaatkan tidak hanya untuk kepentingan sendiri, tapi untuk kepentingan orang banyak, Alloh beserta orang-orang yang peduli….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: