Keteladanan KH. AR Fahrudin oleh KH Ali Mustofa Yaqub


images (4)Keteladanan KH

AR Fachruddin.

 

Oleh Ali Mustafa Yaqub

Imam Besar Masjid Istiqlal

 

Pemimpin kita ini nama lengkapnya adalah KH Abdul Razaq Fachruddin, dan akrab disapa Pak AR. Beliau wafat di Yogyakarta pada 1995 dalam usia 79 tahun. Semasa hidupnya yang diisi dengan khidmah kepada Islam dan Indonesia penuh dengan keteladanan yang patut ditiru generasi masa kini.

 

Kendati kami pernah bertemu, tapi kami tidak banyak merekam perilaku dan keteladanannya kecuali melalui putra-putra beliau, khususnya Mas Luthfi Purnomo, salah seorang putra beliau yang sangat akrab dengan kami sejak mengenalnya tahun 1970-an sampai sekarang.

 

Mas Luthfi, begitu ia akrab disapa, pernah bercerita kepada kami. Suatu saat ia berkata kepada ayahandanya apakah beliau berkenan apabila ia suatu saat nanti berkiprah di luar Muhammadiyah. Maklum, Pak AR adalah ketua umum PP Muhammadiyah sehingga Mas Luthfi mungkin menyangka ayahandanya tidak berkenan kalau anak-anaknya berkiprah di luar Muhammadiyah.

 

Ternyata jawaban beliau luar biasa, “Yo ora opo-opo. Kowe ora kudu nang Muhammadiyah (Ya tidak apa-apa, kamu tidak harus di Muhammadiyah).” Kami langsung teringat sikap KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (wafat 1947) yang tidak pernah mengharuskan putra-putrinya menjadi orang NU. Alangkah indahnya perilaku para pemimpin kita itu dalam menyikapi perbedaan.

 

Bagi KH Hasyim Asy’ari, Islam itu bukan hanya NU. Demikian pula bagi Pak AR, Islam itu bukan hanya Muhammadiyah. Bagi mereka, kebenaran adalah ajaran yang mengacu kepada Alquran dan hadis, dan itu ada di mana-mana. Surga juga sangat luas. Setiap Muslim akan masuk ke dalam surga. Dan jalan ke surga juga banyak, bukan hanya Muhammadiyah dan NU.

 

Bandingkan misalnya dengan para aktivis bawahan yang menjadikan surga yang luas itu sempit karena tidak ada yang dapat masuk surga kecuali kelompoknya saja. Sementara, jalan menuju surga hanya ada satu, yaitu lorong sempit kelompoknya saja. Sehingga mereka memvonis Muslim yang bukan kelompoknya sebagai kafir.

 

Karenanya muncul ungkapan ada dua macam wali, wali songo atau wali sembilan dan wali sempalan. Wali sembilan kerjanya mengislamkan orang-orang kafir, sedangkan wali sempalan kerjanya mengafirkan orang-orang Islam.

 

Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pak AR pernah ditawari jabatan menteri agama, tapi beliau tidak menerimanya. Ketika ditanya alasannya, Pak AR menjawab bahwa jabatan menteri agama itu tanggung jawabnya berat di akhirat dan beliau tidak sanggup mengemban amanah itu.

 

Tampaknya Pak AR dibimbing oleh hadis Nabi SAW yang menyatakan jabatan itu akan menjadi penyesalan di akhirat sehingga apabila memang dirasa berat tanggung jawabnya lebih baik tidak menerimanya. Ketika hal ini kami ceritakan kepada seorang kawan, dia berkomentar, “Pada masa sekarang mungkin tidak ada orang yang seperti Pak AR itu.”

 

Pada masa Orde Baru, terkadang ada kebijakan pemerintah yang dinilai tidak pas menurut Pak AR. Namun, beliau memiliki cara sendiri untuk mengkritisi dan menasihati pemerintah. Beliau tidak mengumpulkan wartawan kemudian menggebuki pemerintah melalui media massa. Beliau justru menghadap Pak Harto dan memberikan nasihat atas kebijakan pemerintah.

 

Cara beliau ini tampaknya dipandu oleh hadis Nabi riwayat Imam al-Hakim, “Apabila kamu mau menasihati penguasa, maka janganlah kamu menasihatinya secara terbuka, tetapi ajaklah ia ke tempat sepi kemudian nasihatilah. Apabila nasihat itu diterima, maka itu yang diharapkan dan apabila tidak diterima, maka kamu telah bebas dari tanggung jawab.”

 

Ketika negeri ini masih memiliki lembaga yang disebut Dewan Pertimbangan Agung (DPA), Pak AR pernah menduduki jabatan sebagai anggota DPA. Beliau pun mendapatkan jatah mobil. Namun, belakangan mobil tersebut diserahkan kepada Muhammadiyah, padahal beliau berhak memilikinya.

 

Ketika ditanya tentang hal itu, beliau menjawab bahwa beliau diangkat sebagai anggota DPA itu karena kapasitasnya sebagai tokoh Muhammadiyah, bukan karena pribadinya. Karenanya, mobil yang diterima karena menjadi anggota DPA menjadi hak Muhammadiyah, bukan haknya sendiri.

 

Tampaknya Pak AR dipandu oleh hadis sahih riwayat Imam Muslim di mana seorang sahabat yang bernama Ibnu al-Lutbiyyah RA ketika diutus Nabi SAW untuk menghimpun zakat dan jizyah dari warga Bahrain, setelah pulang ke Madinah dan menghadap Nabi SAW, ia mengatakan, “Ini untuk Nabi dan ini adalah hadiah untuk saya dari warga Bahrain.”

 

Nabi kemudian berpidato di hadapan para sahabat, “Ada orang yang saya utus untuk memungut zakat dan jizyah di Bahrain. Setelah pulang, dia mengatakan, ‘Ini untuk engkau wahai Rasul, dan ini untuk saya, hadiah dari warga Bahrain’.” Nabi kemudian mengatakan, “Sekiranya dia akan mendapatkan hadiah, mengapa dia tidak duduk saja di rumahnya. Nanti hadiah itu akan datang sendiri ke rumahnya.”

 

Dari hadis ini para ulama berpendapat, hadiah seseorang yang diperoleh karena jabatannya adalah milik lembaga di mana ia menjabat, bukan miliknya pribadi. Dan itulah yang dilakukan Pak AR Fachruddin. Bandingkan misalnya dengan oknum-okum tokoh masa kini yang semula termasuk berkantong kempes, tetapi dengan menggunakan lembaga atau organisasinya, ia menggendutkan rekeningnya.

 

Perilaku Pak AR ini memang dibimbing oleh agama karena beliau mendalami agama dulu sebelum menjadi pemimpin, seperti disebutkan dalam hadis Ibnu Umar RA, “Dalamilah agama sebelum kamu menjadi pemimpin.” Sementara banyak orang sekarang menjadi pemimpin tanpa pernah mendalami agama lebih dulu sehingga perilakunya tidak dipandu oleh agama tetapi dipandu emosi dan hawa nafsu.

 

Tampaknya perilaku Pak AR inilah yang menyebabkan tokoh NU KH M Yusuf Hasyim yang akrab disapa Pak Ud, ketika dalam perjalanan darat dari Tebuireng ke Jakarta dan sampai di Brebes, beliau mendengar dari radio mobilnya bahwa Pak AR wafat, maka Pak Ud tidak melanjutkan perjalanannya ke Jakarta, melainkan kembali berputar menuju Yogyakarta untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pak AR.

 

Semoga keteladanan Pak AR ini dapat menjadi seteguk air yang menghilangkan kedahagaan umat Islam akan keteladanan seorang pemimpin. Semoga Allah SWT menerima ibadahnya dan mengampuni dosanya. Aamiin

Categories: Kuliah | Tinggalkan komentar
 
 

BERTEMU JODOH LEWAT BERSIN


Bismillah. KULTUM PAGI dari ust. MASYHUD S.M. 30 – April 2016.. untuk KOKAM PERKASA…

Ini serius walau ringan :

BERTEMU JODOH LEWAT BERSIN

 

Kisah KH AL-Ny. Hj. SNA, Kedunglumpang, Salaman, Magelang.

 

Dalam sebuah perjalanan kereta api dari Jakarta ke Yogyakarta, tahun 1980-an; pemuda itu bersin di kursinya. Diapun bertahmid,

 

“Alhamdulillaah.”

 

Dari seberang tempat duduknya terdengar suara lirih namun tegas,

“Yarhamukallaah.”

 

Maka diapun menjawab,

 

“Yahdikumullah, wa yushlihu baalakum”,

lalu menoleh. Yang dia lihat adalah jilbab putih, yang wajahnya menghadap ke jendela.

 

Ini tahun 1980-an. Jilbab adalah permata firdaus di gersangnya dakwah. Dan ucapan “Yarhamukallaah” adalah ilmu yang langka. Keduanya terasa surgawi.

Maka bergegas, disobeknya kertas dari buku agenda & diambilnya pena dari tasnya. Disodorkannya pada muslimah itu.

 

“Dik”, ujarnya, “Tolong tulis nama Bapak Anda & alamat lengkapnya.”.

 

Gadis itu terkejut.

“Buat apa?”, tanyanya dengan wajah pias lagi khawatir.

 

“Saya ingin menyambung ukhuwah & thalabul ‘ilmi kepada beliau”, ujar sang pemuda. “Amat bersyukur jika bisa belajar dari beliau bagaimana mendidik putra-putri jadi Shalih & Shalihah.”

 

Masih ragu, gadis itupun menuliskan sebuah nama & alamat.

 

“Kalau ada denahnya lebih baik”, sergah si pemuda.

 

Beberapa hari kemudian, pemuda itu mendatangi alamat yang tertulis di kertas. Diketuk pintunya, dia ucapkan salam. Seorang bapak berwajah teduh & bersahaja menyambutnya.

 

Setelah disilakan duduk, sang bapak bertanya, “Anak ini siapa & ada perlu apa?”

 

Dia perkenalkan dirinya, lalu dia berkata,

 

“Maksud saya kemari; pertama nawaituz ziyarah libina-il ukhuwah. Saya ingin, semoga dapat bersaudara dengan orang-orang Shalih sampai ke surga.”

“Yang kedua”, sambungnya, “Niat saya adalah thalabul ‘ilmi. Semoga saya dapat belajar pada Bapak bagaimana mendidik anak jadi Shalih dan Shalihah.”

“Yang ketiga”, di kalimat ini dia agak gemetar, “Jika memungkinkan bagi saya belajar langsung tentang itu di bawah bimbingan Bapak dengan menjadi bagian keluarga ini, saya sangat bersyukur. Maka dengan ini, saya beranikan diri melamar putri Bapak.”

 

“Lho Nak”, ujar si Bapak, “Putri saya yang mana yang mau Anak lamar? Anak perempuan saya jumlahnya ada 5 itu?”

 

“Bismillah. Saya serahkan pada Bapak, mana yang Bapak ridhakan untuk saya. Saya serahkan urusan ini kepada Allah dan kepada Bapak. Sebab saya yakin, husnuzhzhan saya, bapak sebagai orang Shalih, juga memiliki putri-putri yang semua Shalihah.”

 

“Lho ya jangan begitu. Lha anak saya yang sudah Anda kenal yang mana?”

 

“Belum ada Pak”, pemuda itu nyengir.

 

Orangtua itu geleng-geleng kepala sambil tersenyum bijak.

 

“Sebentar Nak”, kata si Bapak, “Lha Anda bisa sampai ke sini, tiba-tiba melamar anak saya itu ceritanya bagaimana?”

 

Pemuda itupun menceritakan kisah perjumpaannya dengan putri sang Bapak di Kereta. Lengkap dan gamblang.

 

Sang bapak mengangguk-angguk.

 

“Ya kalau begitu”, ujar beliau, “Karena yang sudah Anda nazhar (lihat) adalah anak saya yang itu; bagaimana kalau saya tanyakan padanya kesanggupannya; apakah anak juga ridha padanya?”

 

Pemuda itu mengangguk dengan tersipu malu.

Singkat cerita, hari itu juga mereka diakadkan, dengan memanggil tetangga kanan-kiri tuk jadi saksi. Maharnya? Pena yang dipakai pemuda itu meminta alamat sang Bapak pada gadis di kereta yang akhirnya jadi isterinya, ditambah beberapa lembar rupiah yang ada di dompetnya.

 

Hingga kini mereka dikaruniai 6 putra-putri. Satu putra telah wafat karena sakit setelah mengkhatamkan hafalan Qurannya. Lima yang lain, semua juga menjadi para pemikul Al Quran.

Pasangan yang tak lagi muda itu, masih suka saling menggoda hingga kini. Itu tak lain, karena sang suami memang berpembawaan lucu.

 

“Salim”,(bkn nama sebenarnya) ujarnya pada suatu hari, “Bibimu ini lho, cuma saya bersin-i saja jadi istri. Lha coba kalau saya batuk, jadi apa dia!”

Saya terkekeh. Dan lebih terbahak ketika bibi saya itu mencubit perut samping suaminya. “Kalau batuk”, ujar Hafizhah Qiraat Sab’ah ini, ingin bercanda tapi tak dapat menahan tawanya sendiri,

“Mungkin beliau jadi sopir saya!”

 

Ya Allah; jagalah mereka, sebab mereka menjaga KitabMu di sebuah pesantren sederhana di pelosok negeri ini.

——

:: Misteri jodoh 234 itu unik. Lagi gak nyari, eh malah ketemu. Pas nyari sampai bertahun-tahun, eh gak cocok aja. Jodoh itu sudah ditakdirkan, jadi gak perlu risau, galau, parau,sedih dan duka cita.

 

Silahkan dishare jika bermanfaat. ..

 

❣💕💓💗💘💖💜💙

💚💛❤️💝

Categories: Motivasi | Tinggalkan komentar
 
 

Pemuda Terbaik Dunia


PEMUDA TERBAIK DUNIA.

 

Kalau saja Mahmed II hidup kembali dan melihat kondisi pemuda saat ini, mungkin ia sudah geleng-geleng kepala tak habis pikir. Ah, betapa kualitas kita dan dirinya terbentang amat jauh!

 

Saat kebanyakan pemuda berumur 21 tahun sudah angkat dagu, bangga bisa taklukkan hati wanita, Muhammad Al-Fatih sudah mampu taklukkan Konstantinopel!

 

Saat para pemuda bersenang-senang habiskan umur 8 tahunnya dengan menghafal lagu-lagu orang dewasa, Muhammad Al-Fatih sudah hafalkan seluruh ayat Al-Quran dalam kepalanya.

 

Saat para pemuda masih bingung dengan mimpinya, tidak tahu akan jadi apa, “let it flow” katanya, Muhammad Al-Fatih sudah bertekad dengan lantang sejak kecil, “Ayah, aku ingin menaklukkan konstantinopel!”

 

Tekadnya tidak berakhir dengan teriakan lantang saja. Muhammad Al-Fatih memiliki visualisasi mimpi yang teramat jelas. Sejak kecil ia bersama ayah dan gurunya sudah memandang Benteng Byzantium dari atas bukit.

 

“Nak, benteng itu yang akan kau taklukkan nanti,” seru Sang Ayah.

 

Muhammad Al-fatih bahkan memiliki ruangan khusus berisi miniatur Konstantinopel, lengkap dengan peta dan strategi perang. Betapa ia tidak main-main dengan mimpinya.

 

Saat para pemuda begitu mudah mengeluh, merasa punya segudang masalah dan tekanan hidup, lalu menganggap hidupnya akan berakhir sia sia, Muhammad Al-Fatih sudah dibebankan amanah yang begitu besar bahkan sejak ia lahir ke dunia.

 

Ia menjadi tumpuan harapan tiga generasi akan takluknya konstantinopel, janji Allah yang diucapkan Rasulullah ratusan tahun silam. Ia menjadi harapan dari 6 abad perjuangan para pendahulu. Bayangkan! harapan 600 tahun perjuangan para pendahulu dibebankan pada pundaknya! Ah, tapi sedikitpun ia tak gentar, tak mundur barang sejengkal!

 

Saat para pemuda habiskan waktunya untuk bersenang-senang, menonton film, nongkrong berjam-jam, Muhammad Al-Fatih memilih tingkatkan kemampuan fisik dan mengisi otaknya. Ia kuasai teknik bela diri, memanah, berkuda, berenang, strategi berperang, Ilmu fiqh, hadis, astronomi, dan matematika. Ia juga menguasai banyak bahasa; Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.

 

Saat para pemuda dengan mudah hancur mentalnya ketika direndahkan atau dihina orang lain, Muhammad Al-Fatih punya hati seluas samudera, mental sekuat baja. Tak terhitung berapa banyak orang yang merendahkannya saat ia diangkat menjadi Raja pada umur 19 tahun. “Bocah ingusan!” cela orang. Musuh dan lingkaran orang kerajaan meremehkan kemampuannya. Kerajaan musuh menyerang saat tahu Muhammad Al-Fatih diangkat menjadi sultan. Tapi ia lebih memilih memberikan bukti nyata.

 

Saat para pemuda habiskan air matanya untuk kekasih hati yang tidak jelas, Muhammad Al-Fatih memilih habiskan air matanya untuk memohon ampunan dan panjatkan harapan. Sejak baligh, tak pernah satu malam pun ia lewatkan salat Tahajud. Ialah Pedang Malam, yang selalu diasah dengan tulus ikhlas.

 

Saat para pemuda lupa dan meninggalkan Tuhan, “nanti saja kalau sudah tua” fikirnya, Muhammad Al-Fatih tak sekalipun pernah meninggalkan Allah dalam tiap urusannya. Ia miliki 250ribu pasukan yang tak sekalipun meninggalkan salat wajib. Ia laksanakan salat Jumat sebelum menyerang Konstantinopel. Salat yang shaffnya terpanjang dalam sejarah, 4 km membentang dari Pantai Marmara hingga Selat Golden Horn di utara! Gema takbir bersahutan, menggetarkan, menjadi semangat saat menggempur lawan!

 

Saat para pemuda kehabisan cara dan ide-ide cemerlang untuk meraih mimpinya, Muhammad Al-Fatih tak kehabisan cara, bahkan yang menurut orang lain gila.

 

Yang ia hadapi ialah Benteng Byzantium! Dibatasi laut dengan pagar rantai besi, terbuat dengan teknologi terhebat pada zamannya, tak mampu ditembus selama 11 abad.

 

Kokohnya Benteng Byzantium tak membuat Ia kehilangan akal. Tak bisa menyeberangkan 70 kapal lewat laut, ia lumurkan minyak pada ratusan gelondongan kayu, lalu jalankan seluruh armada kapal melintasi bukit hanya dalam satu malam!

 

Hoila!

 

Pagi hari menjelang, musuh kaget bukan kepalang. Benteng Byzantium yang selama 11 abad tak terhancurkan, hari itu telah mampu ditembus!

 

Merekalah yang Rasulullah sebut dengan sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tentara.

 

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”

[H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335].

 

Lalu saat ini, kita sadar akan bentang yang amat jauh antara kualitas pemuda saat ini dan di zaman Muhammad Al-Fatih. Ada jurang pemisah yang terpampang dengan nyata. Kita juga sadar akan ketinggalan yang amat jauh. Oleh karena itu, kita harus mengejar itu semua dengan kerja keras dan kesungguhan.

 

“Kaki anak Adam tidaklah bergeser pada hari Kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya.” (HR. Tirmidzi)

 

Kelak masa muda akan dimintai pertanggungjawabannya. Mereka yang memberi manfaat yang akan kekal, namanya abadi tercatat di bumi dan langit.

 

“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS.  Arraad:17).

 

Bismillah.

 

Semangat …GESIT..

Syiar….berjuang bangun

Bangun Da’wah

Bentengi keluarga Muslim

 

Bila tdk Sekarang Kapan lagi ❗

Bila Bukan Kita Siapa Lagi …❗

 

DR. Mawardi M.Sholeh

Dewan Syariah HPAI

Granada,23 maret 2016

07.18 PM

 

Categories: Kajian, Motivasi | Tinggalkan komentar
 
 

Mengenang Tulisan KH. Ali Mustofa Yakub: Haji Pengabdi Setan


Tulisan penuh makna, mengenang  Prof.  KH. Ali Mustafa Yakub, semoga beliau husnul khotimah, diampuni dosa2nya dan diterima amal kebaikannya. Aamiin

Ini salah satu tulisan Allahuyarham KH Ali Mustofa Yaqub yg ada baiknya kita baca

 

Haji Pengabdi Setan

 

 

Oleh: Ali Mustafa Yaqub*

 

IBADAH haji 1426 H, pekan lalu, usai sudah. Jamaah haji Indonesia mulai pulang ke Tanah Air. Bila mereka ditanya apakah Anda ingin kembali lagi ke Mekkah, hampir seluruhnya menjawab, ”Ingin.” Hanya segelintir yang menjawab, “Saya ingin beribadah haji sekali saja, seperti Nabi SAW.”

 

Jawaban itu menunjukkan antusiasme umat Islam Indonesia beribadah haji. Sekilas, itu juga menunjukkan nilai positif. Karena beribadah haji berkali-kali dianggap sebagai barometer ketakwaan dan ketebalan kantong. Tapi, dari kacamata agama, itu tidak selamanya positif.

 

Kendati ibadah haji telah ada sejak masa Nabi Ibrahim, bagi umat Islam, ia baru diwajibkan pada tahun 6 H. Walau begitu, Nabi SAW dan para sahabat belum dapat menjalankan ibadah haji karena saat itu Mekkah masih dikuasai kaum musyrik. Setelah Nabi SAW menguasai Mekkah (Fath Makkah) pada 12 Ramadan 8 H, sejak itu beliau berkesempatan beribadah haji.

 

Namun Nabi SAW tidak beribadah haji pada 8 H itu. Juga tidak pada 9 H. Pada 10 H, Nabi SAW baru menjalankan ibadah haji. Tiga bulan kemudian, Nabi SAW wafat. Karenanya, ibadah haji beliau disebut haji wida’ (haji perpisahan).

 

Itu artinya, Nabi SAW berkesempatan beribadah haji tiga kali, namun beliau menjalaninya hanya sekali. Nabi SAW juga berkesempatan umrah ribuan kali, namun beliau hanya melakukan umrah sunah tiga kali dan umrah wajib bersama haji sekali. Mengapa?

 

Sekiranya haji dan atau umrah berkali-kali itu baik, tentu Nabi SAW lebih dahulu mengerjakannya, karena salah satu peran Nabi SAW adalah memberi uswah (teladan) bagi umatnya. Selama tiga kali Ramadan, Nabi SAW juga tidak pernah mondar-mandir menggiring jamaah umrah dari Madinah ke Mekkah.

 

Dalam Islam, ada dua kategori ibadah: ibadah qashirah (ibadah individual) yang manfaatnya hanya dirasakan pelakunya dan ibadah muta’addiyah (ibadah sosial) yang manfaatnya dirasakan pelakunya dan orang lain. Ibadah haji dan umrah termasuk ibadah qashirah. Karenanya, ketika pada saat bersamaan terdapat ibadah qashirah dan muta’addiyah, Nabi SAW tidak mengerjakan ibadah qashirah, melainkan memilih ibadah muta’addiyah.

 

 

Menyantuni anak yatim, yang termasuk ibadah muta’addiyah, misalnya, oleh Nabi SAW, penyantunnya dijanjikan surga, malah kelak hidup berdampingan dengan beliau. Sementara untuk haji mabrur, Nabi SAW hanya menjanjikan surga, tanpa janji berdampingan bersama beliau. Ini bukti, ibadah sosial lebih utama ketimbang ibadah individual.

 

Di Madinah, banyak ”mahasiswa” belajar pada Nabi SAW. Mereka tinggal di shuffah Masjid Nabawi. Jumlahnya ratusan. Mereka yang disebut ahl al-shuffah itu adalah mahasiswa Nabi SAW yang tidak memiliki apa-apa kecuali dirinya sendiri, seperti Abu Hurairah. Bersama para sahabat, Nabi SAW menanggung makan mereka. Ibadah muta’addiyah seperti ini yang diteladankan beliau, bukan pergi haji berkali-kali atau menggiring jamaah umrah tiap bulan. Karenanya, para ulama dari kalangan Tabiin seperti Muhammad bin Sirin, Ibrahim al-Nakha’i, dan Malik bin Anas berpendapat, beribadah umrah setahun dua kali hukumnya makruh (tidak disukai), karena Nabi SAW dan ulama salaf tidak pernah melakukannya.

 

Dalam hadis qudsi riwayat Imam Muslim ditegaskan, Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka’bah. Jadi, Allah berada di sisi orang lemah dan menderita. Allah dapat ditemui melalui ibadah sosial, bukan hanya ibadah individual. Kaidah fikih menyebutkan, al-muta’addiyah afdhol min al-qashirah (ibadah sosial lebih utama daripada ibadah individual).

 

Jumlah jamaah haji Indonesia yang tiap tahun di atas 200.000 sekilas menggembirakan. Namun, bila ditelaah lebih jauh, kenyataan itu justru memprihatinkan, karena sebagian dari jumlah itu sudah beribadah haji berkali-kali. Boleh jadi, kepergian mereka yang berkali-kali itu bukan lagi sunah, melainkan makruh, bahkan haram.

 

Ketika banyak anak yatim telantar, puluhan ribu orang menjadi tunawisma akibat bencana alam, banyak balita busung lapar, banyak rumah Allah roboh, banyak orang terkena pemutusan hubungan kerja, banyak orang makan nasi aking, dan banyak rumah yatim dan bangunan pesantren terbengkalai, lalu kita pergi haji kedua atau ketiga kalinya, maka kita patut bertanya pada diri sendiri, apakah haji kita itu karena melaksanakan perintah Allah?

 

Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena setan.

 

Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, setan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau setan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh setan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan setan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.

 

Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya. Wa Allah a’lam.[ ]


 

Categories: Kajian | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com. Tema Adventure Journal.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.