Kesmavet


Tujuan Pembelajaran   :           1. Menjelaskan tentang Kesmavet

(arti, aktivitas, progam, dan komponen)

2. Menjelaskan tentang kesehatan masyarakat

(arti, aktivitas, progam, dan komponen)

  1. Peningkatan gizi
  2. Manjemen kesehatan
  3. Kesehatan kerja
  4. Pendidikan
  5. Perilaku

3. Menjelaskan pengertian Codex Alimentarius

4. Menjelaskan tentang analisis resiko

       I.            Kesmavet

Segala kegiatan atau urusan yang berhubungan dengan hewan dan bahan-bahan yang berasal dari hewan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kesehatan masyarakat dan ketentraman batin masyarakat. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan ketentraman batin  masyarakat adalah suasana tentram dan kepastian dalam diri masyarakat bahwa hewan dan produk hewan yang berada di dalam lingkungannya telah terjamin, sehingga aman dan layak serta sesuai dengan keyakinan dan kaidah yang berlaku.

Kesehatan masayarakat veteriner berperan penting dalam mencegah penularan penyakit hewan kepada manusia (zoonosis), dan juga turut memelihara dan mengamankan produksi bahan makanan asal hewan dari pencemaran dan kerusakan akibat penanganan yang kurang higienis semua hal ini hanya ditujukan untuk kepentingan kesehatan masyarakat.

Aktivitas dan progam yang dilakukan dalam kesehatan masyaraka veteriner antara lain

  1. Mengendalikan Kesehatan Hewan melalui pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan dengan pelayanan kesehatan hewan yang baik.
  2.  Menjamin produk hasil peternakan yang Aman, Sehat, Utuh dan Higienis (ASUH).
  3. Melayani  pemeriksaan bahan pangan asal hewan secara rutin.
  4. Mensosialisasikan masalah kesmavet kepada masyarakat luas.
    1. Pengembangan sistem jaminan keamanan produk asal hewan
    2. Pengembangan sistem pencegahan penyebaran penyakit (PHMU dan zoonosis)
    3. Pengembangan sistem pengendalian residu dan cemaran mikroba
    4. Pengembangan pembinaan kesejahteraan hewan
    5. Pengembangan Sistem Kesmavet Nasional (Budiharta, 2010)

Komponen atau ruang lingkup dari kesehatan masyarakat veteriner antara lain

  1. Pencegahan zoonosis
  2. Perlindungan terhadap makanan
  3. Perlindungan terhadap ancaman lingkungan
  4. Riset kedokteran perbandingan
  5. Pendidikan kesehatan
  6. Administrasi kesehatan
  7. Kesehatan mental/emosional
  8. Kesehatan darurat
  9. Kesehatan manusia melalui produk hewan (Budiharta, 2010).

 

    II.            Kesehatan Masyarakat

Kesehatan masyarakat merupakan suatu aplikasi keterpaduan antara ilmu kedokteran, sanitasi dan  ilmu sosial dalam mencegah penyakit yang terjadi di masyarakat. Semua hal ini bertujuan utk mencegah penyakit, memperpanjang hidup dan meningkatkan kesehatan, melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat.

Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain :

  1. Perbaikan sanitasi lingkungan.
  2. Pemberantasan penyakit menular.
  3. Pendidikan kesehatan/hygiene.
  4. Pengorganisasian / manajemen pelayanan kesehatan.
  5. Pengembangan rekayasa sosial dalam rangka pemeliharaan kesehatan masyarakat.

 

  1. A.    Peningkatan gizi

Peningkatan gizi merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan oleh setiap individu maupun kelompok. Masyarakat harus mencapai status gizi masayarakat yang optimal, yaitu suatu keadaan gizi pada tingkat setinggi mungkin yang dapat dicapai sesuai dengan perkembangan iptek, sarana dan prasarana, dan kemampuan manajemen, pada suatu kurun waktu tertentu (Anonim, 2010 (d)).

Salah satu upaya yang mempunyai dampak cukup penting terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah upaya peningkatan status gizi masyarakat. Status gizi masyarakat merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas hidup dan produktivitas individu dan masyarakat. Zat gizi adalah zat-zat yang diperoleh dari bahan makanan yang dikonsumsi, mempunyai nilai yang sangat penting (tergantung dari macam-macam bahan makanannya) untuk memperoleh energi guna melakukan kegiatan fisik sehari-hari maupun pendorong kekuatan mental. Proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan yang terpelihara dengan baik akan menunjukkan baiknya kesehatan yang dimiliki seseorang. Seseorang yang sehat tentunya memiliki daya pikir dan daya kegiatan fisik sehari-hari yang cukup tinggi (Marsetyo dan Kartasapoetra, 1991).

Tubuh manusia memerlukan sejumlah pangan dan gizi secara tetap, sesuai dengan standar kecukupan gizi, namun kebutuhan tersebut tidak selalu dapat terpenuhi. Penduduk yang miskin tidak mendapatkan pangan dan gizi dalam jumlah yang cukup. Mereka menderita lapar pangan dan gizi, mereka menderita gizi kurang. (Sri Handajani, 1996). Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Bila kekurangan itu ringan, tidak akan dijumpai penyakit defisiensi yang nyata, tetapi akan timbul konsekwensi fungsional yang lebih ringan dan kadang-kadang tidak disadari kalau hal tersebut karena factor gizi (Ari Agung, 2002). Untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya tubuh melakukan pemeliharaan dengan mengganti jaringan yang sudah aus, melakukan kegiatan, dan pertumbuhan sebelum usia dewasa. Agar tubuh dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut diperlukan sejumlah gizi setiap hari, yang didapat melalui makanan. Diperkirakan 50 macam senyawa dan unsur yang harus diperoleh dari makanan dengan jumlah tertentu setiap harinya. Bila jumlah yang diperlukan tidak terpenuhi maka kesehatan yang optimal tidak dapat dicapai (Ari Agung, 2002).

Kekurangan zat gizi, khususnya energi dan protein, pada tahap awal menimbulkan rasa lapar dalam jangka waktu tertentu berat badan menurun yang disertai dengan kemampuan dalam beraktivitas. Kekurangan yang berlanjut akan mengakibatkan keadaan gizi kurang dan gizi buruk. Bila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein yang mencukupi akhirnya akan mudah terserang infeksi (penyakit) (Drajat Martianto, 1992). Gizi merupakan faktor penentu kualitas SDM yang pokok, karena unsur gizi tidak hanya sekedar mempengaruhi derajat kesehatan dan ketahanan fisik, tetapi juga menentukan kualitas daya pikir atau kecerdasan intelektual yang sangat esensial bagi kehidupan manusia. Dengan status gizi yang rendah akan sulit untuk hidup secara sehat, aktif, dan produktif yang secara berkelanjutan, dan akan menjadi penyakit turunan. Jadi Kekurangan dan kelebihan zat gizi yang diterima tubuh seseorang akan sama mempunyai dampak yang negatif, perbaikan konsumsi pangan dan peningkatan status gizi sesuai atau seimbang dengan yang diperlukan tubuh jelas merupakan unsur penting yang berdampak positif bagi peningkatan kualitas hidup manusia, sehat, kreatif dan produktif. Maka dari dalam rangka peningkatan status gizi yang sesuai dan seimbang diperlukan beberapa hal, diantaranya adalah

  1. Pemberdayaan keluarga dan masyarakat
  2. Pemantapan kelembagaan pangan dan gizi
  3. Pemantapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi
  4. Advokasi dan mobilisasi sosial
  5. Peningkatan mutu dan cakupan pelayanan gizi melalui penerapan paradigma sehat
  6. Pengembangan kelembagaan pangan dan gizi
  7. Pengembangan tenaga pangan dan gizi
  8. Peningkatan ketahanan pangan
  9. Kewaspadaan pangan dan gizi
  10. Pencegahan dan penanggulangan gizi kurang dan gizi lebih
  11. Pencegahan dan penanggulangan kurang zat gizi mikro
  12. Peningkatan perilaku sadar pangan dan gizi
  13. Pelayanan gizi di Institusi
  14. Pengembangan mutu dan keamanan pangan
  15. Penelitian dan pengembangan
  16. Revitalisasi pada infrastruktur yang berkaitan dengan upaya desentralisasi
  17. Alokasi kesehatan dan gizi yang optimal
  18. Memperkuat aspek teknologi bidang kesehatan dan gizi
  19. Memperkuat aspek pelayanan kesehatan dan gizi secara profesional dan menyeluruh (Anonim, 2001).

 

  1. B.     Manajemen kesehatan

Kesehatan masayarat merupakan suatu kegiatan untuk mengatur para petugas kesehatan dan non petugas kesehatan guna meningkatkan kesehatan masyarakat melalui program kesehatan. Target dari manajemen masyarakat adalah membentuk sebuah sistem atau unit pelayanan kesehatan masyarakat seperti puskesmas, rumah sakit, balkesmas serta unit atau organisasi lain yang mengupayakan peningkatan kesehatan masyarakat. Fungsi dari manajemen itu sendiri adalah

  1. Perencanaan / planning

Perencanaan merupakan suatu proses penganalisisan & pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Semua kegiatan harus dilakasanakan dengan perencanaan. Macam dari perencanaan

  1. Berdasarkan waktu : Perencanaan jangka panjang (10-25 tahun), jangka menengah (5-7 tahun), dan jangka pendek (hanya 1 tahun).
  2. Berdasarkan tingkatannya : Rencana induk, rencana operasional, rencana harian.
  3. Berdasarkan ruang lingkupnya : Strategis (tujuan dan uraian jangka panjang), taktis (bersifat jangka pendek, mudah menyesuaikan kegiatan-kegiatannya asal tujuan masih tetap dan tidak berubah), menyeluruh, terinterasi (menyeluruh dan terpadu).

Langkah-langkah dalam proses perencanaan diantaranya adalah

  1. Identifikasi masalah
  2. Menetapkan prioritas masalah
  3. Menetapkan tujuan
  4. Menetapkan rencana kegiatan
  5. Menetapkan sasaran
  6. Waktu
  7. Organisasi dan staf
  8. Rencana anggaran
  9. Rencana evaluasi
    1. Pengorganisasian / organizing

Merupakan sebuah kegiatan dalam hal pengaturan staf yang ada dalam institusi tersebut agar semua kegiatan berjalan baik, sehingga tujuan dapat tercapai. Pengorganisasian meliputi

  1. Hal yang diorganisasikan

Pengaturan berbagai kegiatan dalam rencana, sehingga membentuk satu kesatuan terpadu untuk mencapai tujuan.

  1. Proses pengorganisasian

Langkah-langkah yang harus dilakukan sehingga semua kegiatan dan tenaga pelaksana dapat berjalan baik.

  1. Hasil pengorganisasian

Terbentuknya struktur organisasi yang merupakan perpaduan antara kegiatan dan tenaga pelaksana.

  1. Penyusunan personalia / staffing
  2. Pengkoordinasian / coordinating
  3. Penyusunan anggaran / budgeting (Yudhabuntara, 2010)

 

  1. C.    Kesehatan kerja

Kesehatan kerja merupakan upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat di sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas yang optimal (UU Kesehatan Tahun 1992 Pasal 23).

Kesehatan kerja meliputi dari upaya penyerasian antara pekerja dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya baik fisik maupun psikis dalam hal cara/metode kerja, proses kerja dan kondisi yang bertujuan untuk :

  1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja disemua lapangan kerja setinggi-tingginya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya.
  2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerjanya.
  3. Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerja di dalam pekerjaannyadari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor-faktor yang membahayakan kesehatan.
  4. Menempatkan dan memelihara pekerja disuatu lingkungan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya.

Kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan menghasilkan kesehatan kerja yang baik dan optimal. Kapasitas kerja yang baik seperti status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.

Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa status kesehatan masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh bahaya kesehatan ditempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh factor-faktor pelayanan kesehatan kerja, perilaku kerja serta faktor lainnya. Untuk mengantisipasi dan mengetahui kemungkinan bahaya dilingkungan kerja ditempuh tiga langkah utama, yakni:

  1. Pengenalan lingkungan kerja.

Pengenalan linkungan kerja ini biasanya dilakukan dengan cara melihat dan mengenal (“walk through inspection”), dan ini merupakan langkah dasar yang pertama-tama dilakukan dalam upaya kesehatan kerja.

  1. Evaluasi lingkungan kerja.

Merupakan tahap penilaian karakteristik dan besarnya potensi-potensi bahaya yang mungkin timbul, sehingga bisa untuk menentukan prioritas dalam mengatasi permasalahan.

  1. Pengendalian lingkungan kerja.

Dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan pemajanan terhadap zat/bahan yang berbahaya dilingkungan kerja. Kedua tahapan sebelumnya, pengenalan dan evaluasi, tidak dapat menjamin sebuah lingkungan kerja yang sehat. Jadi hanya dapat dicapai dengan teknologi pengendalian yang adekuat untuk mencegah efek kesehatan yang merugikan di kalangan para pekerja.

  1. Pengendalian lingkungan (Environmental Control Measures)

Disain dan tata letak yang adekuat, Penghilangan atau pengurangan bahan berbahaya pada sumbernya.

  1. Pengendalian perorangan (Personal Control Measures)

Penggunaan alat pelindung perorangan merupakan alternatif lain untuk melindungi pekerja dari bahaya kesehatan. Namun alat pelindung perorangan harus sesuai dan adekuat. Kedua pembatasan waktu selama pekerja terpajan terhadap zat tertentu yang berbahaya dapat menurunkan risiko terkenanya bahaya kesehatan di lingkungan kerja. Kebersihan perorangan dan pakaiannya, merupakan hal yang penting, terutama untuk para pekerja yang dalam pekerjaannya berhubungan dengan bahan kimia serta partikel lain (Buchari, 2007)

 

  1. D.    Pendidikan

Pendidikan adalah usaha yang sengaja (terencana, terkontrol, dengan sadar dan dengan tara yang sistematis) diberikan pada anak didik oleh pendidik agar individunya yang potensial itu lebih berkembang terarah kepada tujuan tertentu. Jadi, didalam pengertian pendidikan tersebut harus terdapat unsur-unsur sebagai berikut :

  1. Adanya bentuk pendidikan itu (apakah berbentuk usaha, pertolongan, bantuan, bimbingan, pelayanan atau pembinaan).
  2. adanya pelaku pendidikan (orang dewasa, pendidik, orang tua, pemuka agama, pemuka masyarakat, ataupun pimpinan organisasi).
  3. adanya sasaran pendidikan (orang yang belum dewasa, anak didik, peserta didik).
  4. adanya sifat pelaksanaan pendidikan (dengan sadar, dengan sengaja, dengan sistematis, dengan atau secara terencana).
  5. adanya tujuan yang ingin dicapai (manusia susila, kedewasaan, manusia yang patriot atau warga negara yang bertanggung jawab).

Proses pendidikan kesehatan juga mengikuti proses tersebut, dan unsur-unsurnya pun sama. Yang bertindak selaku pendidik kesehatan disini adalah semua petugas kesehatan dan siapa saja yang berusaha untuk mempengaruhi individu atau masyarakat guna meningkatkan kesehatan mereka. Karena itu individu, kelompok ataupun masyarakat, disamping dianggap sebagai sasaran (obyek) pendidikan, juga dapat berlaku sebagai subyek(pelaku) pendidikan kesehatan masyarakat apabila mereka di ikutsertakan didalam usaha kesehatan masyarakat. Yang diartikan anak didik atau sasaran pendidikan adalah masyarakat atau individu, baik yang sakit maupun yang tidak belum sakit, baik anak-anak maupun orang dewasa. Jadi, lingkungan pendidikan kesehatan juga mengikuti tiga pusat pendidikan, yaitu :

  1. Pendidikan kesehatan didalam keluarga yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab para orangtua, dengan menitikberatkan pada penanaman kebiasaan-kebiasaan, norma-norma, dan sikap hidup sehat.
  2. Pendidikan kesehatan didalam sekolah adalah tanggung jawab para guru sekolah. Hal inl terwujud dalam Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Tujuan pendidikan kesehatan disekolah, disamping melanjutkan penanaman kebiasaan dan norma-norma hidup sehat kepada murid, juga memberikan pengetahuan kesehatan.
  3. Pendidikan kesehatan di masyarakat, yang dapat dilakukan melalui berbagai lembaga dan organisasi masyarakat.Jadi, pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan didalam bidang kesehatan, maka pendidikan kesehatan dapat didefenisikan sebagai usaha atau kegiatan untuk membantu individu, kelompok atau masyarakat dalam meningkatkan kemampuan (perilakunya), untuk mencapai kesehatan secara optimal. Adapun hasil dari pendidikan kesehatan tersebut,yaitu dalam bentuk perilaku yang menguntungkan kesehatan. Baik dalam bentuk pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan, yang diikuti dengan adanya kesadaran yaitu sikap yang positif terhadap kesehatan, yang akhirnya diterapkan dalam tindakan-tindakan yang menguntungkan kesehatan.

Salah satu pelaksanaan pendidikan kesehatan adalah dengan jalan penerapan pola hidup sehat. Pola hidup sehat ini diikuti oleh setiap individu guna meningkatkan status kesehatannya (Nasution, 2004).

 

  1. E.     Perilaku

Perilaku hidup sehat atau pola hidup sehat dapat didefinisikan sebagai perilaku proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat (Anonim, 2010 (c)). Beberapa perilaku atau pola hidup sehat antara lain :

  1. 1.      Memelihara kebersihan dan kesehetan pribadi dengan baik

Hidup sehat dimulai dari “diri sendiri”. Dapat dikatakan bahwa kesehatan yang kita miliki adalah karena “upaya” kita sendiri. Oleh sebab itu kesehatan perorangan atau kesehatan pribadi memegang peranan penting. Kesehatan pribadi adalah kesehatan bagian-bagian tubuh kita masing-masing yaitu meliputi ; kesehatan kulit rambut dan kuku kesehatan mata, hidung, telinga mulut dan gigi, tangan dan kaki, memakai pakaian yang bersih serta melakukan gerak dan istirahat. Berbagai macam penyakit dapat dicegah dengan menjaga kebersihan. Oleh sebab itu, memelihara kesehatan pribadi dimulai dengan memelihara kebersihan bagian-bagian tubuh kita. Perlu diperhatikan pula masalah pengaruh sinar matahari pada kulit kita. Diwaktu pagi hari, sinar matahari berguna untuk kulit, yaitu mengubah pro vitamin D menjadi vitamin D yang penting bagi kulit. Tetapi berjemur atau berpanas-panasan secara berlebihan di bawah sinar matahari yang terik tidak baik bagi kulit dan kesehatan. Dalam jangka waktu yang panjang, sinar ultraviolet dalam sinar matahari, dapat menembus sampai lapisan epidermis dan dapat menyebabkan kanker kulit.

  1. 2.      Makan makanan sehat

Makan merupakan kebutuhan penting, tidak saja bagi penyediaan energi untuk tubuh kita, tetapi juga merupakan kebutuhan penting untuk kesehatan dan kelangsungan hidup. Makanan menyediakan zat-zat gizi yang diperlukan untuk berbagai proses didalam tubuh kita. Perlu diketahui, bahwa tidak ada makanan yang mengandung semua zat gizi secara komplit. Oleh sebab itu, kita perlu mengkonsumsi aneka ragam makanan untuk menjamin terpenuhinya kecukupan zat-zat gizi yang kita butuhkan, yaitu zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur. Disinilah perlunya setiap orang menerapkan hidangan gizi seimbang. Hidangan gizi seimbang adalah makanan yang mengandung zat tenaga,zat pembangun, dan zat pengatur yang dikonsumsi seseorang dalam satu hari secara seimbang, sesuai dengan kebutuhan tubuh. Ini dapat dilakukan dengan mengkonsumsi aneka ragam makanan dalam menu kita sehari-hari. Keadaan ini nanti akan tercermin dari derajatkesehatannya, tumbuh kembangnya (pada anak-anak) serta produktivitasnya yang optimal. Selain itu, makanlah sesuai usia. Apabila kita sudah memasuki usia lanjut (Lebih dari 50 tahun) kita membutuhkan makanan yang lebih sedikit. Oleh sebab itu, kita perlu mengurangi lemak, gula, dan tepung atau karbohidrat. Selain sesuai usia, makanlah sesuai kebutuhan, tidak berlebihan.Orang yang tidak bekerja keras membutuhkan lebih sedikit makanan daripada orang yang bekerja keras. Untuk mendapatkan berat badan yang sehat, perlu diperhatikan keseimbangan pemasukan dan pengeluaran energi. Artinya bila kita makan terus menerus melebihi kebutuhan tubuh kita atau tidak seimbang dengan aktivttas fisik yang klta lakukan, maka akan terjadi kelebihan energi. Semua ke lebihan energi akan diubah menjadi lemak sehingga kita akan mengalami kegemukan.

  1. 3.      Memelihara Kesehatan Lingkungan

Hidup sehat memerlukan situasi, kondisi, dan lingkungan yang sehat. Oleh karena itu, kondisi lingkungan perlu benar-benar diperhatikan agar tidak merusak kesehatan. Kesehatan lingkungan harus dipelihara agar mendukung kesehatan setiap orang yang hidup di sekitarnya. Memelihara berarti menjaga kebersihannya. Lingkungan kotor dapat menjadi sumber penyakit.  Dalam memelihara kebersihan dan kesehatan lingkungan ada 3 faktor yang harus- pertama-tama diperhatikan, yaitu :

  1. Tersedianya air bersih
  2. Pembuangan sampah dan air limbah
  3. Menjaga kebersihan dan kesehatan kamar mandi, jamban atau WC .

Selain faktor tersebut, kualitas udara perlu juga mendapat perhatian. Karena kualitas udara dalam suatu ruangan merupakan ukuran dari keamanan setiap orang yang berada atau bekerja di ruangan tersebut. Bila seseorang telah lama berada atau bekerja dalam bangunan yang udaranya tercemar, ia dapat mengalami apa yang disebut Sick Building Syndrome atau Sindroma Penyakit Bangunan. Keluhan-keluhan yang timbul adalah sering sakit kepala, mual, sesak bernafas selalu letih dalam mengantuk, timbul gangguan-gangguan kulit dan gejala-gejala mirip influenza.

  1. 4.      Pemeriksaan Kesehatan Secara Berkala

Selain hal-hal yang perlu kita lakukan dalam rangka memelihara kesehatan diri kita sendiri, ada satu hal yang perlu kita lakukan juga, yaitu pemeriksaan kesehatan secara berkala. Dengan pemeriksaan kesehatan ini maka kemungkinan adanya gangguan kesehatan atau gangguan penyakit akan diketahui lebih dini atau lebih awal. Sehingga pengobatannya akan lebih mudah daripada bila penyakitnya sudah parah. Bagi mereka yang dibawah 40 tahun, pemeriksaan kesehatan cukup dilakukan 2 tahun sekali. Tetapi bagi mereka yang berumur 40 tahun keatas, sebaiknya melakukannya satu tahun sekali.

  1. 5.      Menghindari kebiasaan buruk yang merugikan kesehatan

Menghindari kebiasaan-kebiasaan buruk ini seperti contohnya merokok, minum alkohol, kebiasaan yang memungkinkan untuk tertularnya penyakit menular (Nasution, 2004).

 

 III.            Codex Alimentarius

Codex alimentarius merupakan standar pangan yang dibentuk oleh FAO dan WHO pada tahun 1962.  The Codex Alimentarius ( bahasa latin untuk “food code” atau “food book”) adalah koleksi standar internasional, tata cara, guidelines, atau rekomendasi lainnya yang terkait dengan pangan, produksi pangan dan kemanan pangan. Nama itu diturunkan dari the Codex Alimentarius Austriacus. Saat ini anggota CAC terdiri dari 180 negara dan 1 anggota organisasi yang secara keseluruhan mencakup 99 % populasi dunia; serta organisasi internasional non pemerintah yang berlatar belakang industri, konsumen dan ilmiah bertindak sebagai observer. Tujuan dari Codex Alimentarius Commision (CAC) yaitu antara lain

  1. Melindungi kesehatan konsumen dan menjamin praktek yang jujur dalam perdagangan pangan mempromosikan koordinasi atas seluruh kegiatan standar pangan.
  2. Menentukan prioritas dan melakukan inisiatif dan memberikan pedoman dalam penyiapan suatu draft standar.
  3. Memfinalisasi standar.
  4. Mempublikasikan standar dalam Codex Alimentarius baik sebagai standar regional atau seluruh dunia, bersama dengan standar internasional yang telah difinalisasi oleh badan lainnya.
  5. Mengamandemen standar yang telah dipublikasikan, setelah melakukan survei untuk pengembangan (Anonim, 2010 (a)).
  6. Mengendalikan nutrisi dalam makanan
  7. Mengatur penggunaan bahan kimiawi dalam makanan
  8. Mengatur pestisida yang digunakan untuk pertanian
  9. Membuat standar prosedur baru dalam sistem keamanan dan kebersihan makanan
  10. Mengatur bio-teknologi pangan (dalam hal ini rekayasa genetika sumber pangan)
  11. Membuat standar prosedur penelitian makanan
  12. Dll (Anonim, 2010 (b)).

 IV.            Analisis Resiko

Analisis risiko didefinisikan sebagai sebuah proses yang menggabungkan ketidakpastian dalam bentuk quantitatif, menggunakan teori probabilitas, untuk mengevaluasi dampak potensial suatu risiko.

Langkah pertama untuk melakukan tahapan ini adalah pengumpulan data yang relevan terhadap risiko yang akan dianalisa. Data – data ini dapat diperoleh dari data historis perusahaan atau dari pengalaman proyek pada masa lalu. Jika data historis tersebut kurang memadai, dapat dilakukan teknik identifikasi risiko yang lain (Razif, 2002).

Setelah data yang dibutuhkan terkumpul, selanjutnya dilakukan proses evaluasi dampak dari sebuah risiko. Proses evaluasi dampak risiko dilakukan dengan mengkombinasikan antara probabilitas (sebagai bentuk quantitatif dari faktor ketidakpastian / uncertainty) dan dampak / konsekuensi dari terjadinya sebuah risiko. Untuk melakukan proses evaluasi tersebut, dibutuhkan suatu parameter yang jelas untuk dapat mengukur dampak dari suatu risiko dengan tepat. Menurut Loosemore, Raftery, Reilly dan Higgon (2006), beberapa parameter untuk proses evaluasi risiko seperti pada Tabel 5 dan 6.

Tabel  5. Parameter probabilitas risiko

Parameter Deskripsi
Jarang terjadi Peristiwa ini hanya muncul pada keadaan yang luar biasa jarang.
Agak jarang terjadi Peristiwa ini jarang terjadi.
Mungkin terjadi Peristiwa ini kadang terjadi pada suatu waktu.
Sering terjadi Peristiwa ini pernah terjadi dan mungkin terjadi lagi.
Hampir pasti terjadi Peristiwa ini sering muncul pada berbagai keadaan.

 

Sumber : Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, (2006). Risk Management in Projects

 

Tabel  6.  Parameter konsekuensi risiko

Parameter Deskripsi
Tidak signifikan Tidak ada yang terluka; kerugian finansial kecil.
Kecil Pertolongan pertama; kerugian finansial medium.
Sedang Perlu perawatan medis; kerugian finansial cukup besar.
Besar Cedera parah; kerugian finansial besar.
Sangat signifikan Kematian; kerugian finansial sangat besar.

 

Sumber : Loosemore, Raftery, Reilly, Higgon, (2006). Risk Management in Projects

 

Setelah risiko – risiko yang mungkin terjadi dievaluasi dengan menggunakan parameter – parameter probabilitas dan konsekuensi risiko diatas, selanjutnya dapat dilakukan suatu analisa untuk mengevaluasi dampak risiko secara keseluruhan, dengan menggunakan matriks evaluasi risiko (damnayanti, 2004).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alia Damayanti, Joni Hermana, dan Ali Masduqi. 2004. Analisi resiko lingkungan

pengolahan limbah pabrik tahu dengan kayu apu (Pistia stratiotes L.). Jurnal Purifikasi, Vol.5, No.4, Oktober 2004 : 151-156

 

Anonim. 2001. Analisis Susenas 1999 dan 2000 untuk LILA pada Wanita Usia Subur,

Direktorat Gizi Masyarakat

Anonim. 2010 (a). Sidang Codex Alimentarius di Geneva. http://www.bsn.go.id/

(diakses pada tanggal 1 November 2010)

 

Anonim. 2010 (b). Codex Alimentarius dan Agenda Terselubung Zionisme.

http://un2kmu.wordpress.com/ (diakses pada tanggal 1 November 2010).

Anonim. 2010 (c). 7 Perilaku Sehat. http://antimarch21.student.umm.ac.id/

            (diakses pada tanggal 2 November 2010).

Anonim. 2010 (d). Persatuan Ahli Gizi Indonesia. Jakarta

Ari Agung, I Gusti Ayu. Kacang Ijo Meningkatkan Produktivitas Kerja. Patria Untag.

Surabaya

Buchari. 2007. Manajemen kesehatan kerja dan alat pelindung diri. Universitas Sumatera

Utara

Drajat Martianto. 1992. Gizi Terapan. PAU Pangan dan Gizi IPB. Bogor

Marsetyo, H dan G. Kartasapoetra. 1991. Ilmu Gizi. Rineka Cipta. Jakarta.

Nasution, S.K. 2004. Meningkatkan status kesehatan melalui pendidikan kesehatan da

penerapan pola hidup sehat. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara

Razif, M. 2002. Analisis Resiko Lingkungan: Kumpulan Materi Kuliah. FTSP Jurusan

Teknik Lingkungan ITS, Surabaya.

Setyawan, B. 2010. Ruang Lingkup dan Progam-progam Kesmavet. FKH UGM. Yogyakarta.

            (Kuliah pengantar blok 14 Higiene Veteriner, pada tanggal 3 November 2010).

Sri Handajani. 1996. Pangan, Gizi dan Masyarakat. Sebelas Maret University Press.

Solo

Yudhabuntara, D. 2010. Pengertian dan Manajemen Kesehatan Masyarakat. FKH UGM.

Yogyakarta. (Kuliah pengantar blok 14 Higiene Veteriner, pada tanggal 2 November 2010).

Categories: Kuliah | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: